Kongres Pemuda II " Dari Sumpah Pemuda Sampai Indonesia Raya"

Posted by Unknown on Minggu, 27 Oktober 2013 0


Edisi Khusus Suara Buleleng - Apa yang terlintas dalam benak kita saat melihat foto diatas? Sekelompok pemuda dengan tangan mengepal dan wajah penuh semangat dalam sebuah ruangan terlihat sedang mendeklarasikan sesuatu yang sangat prinsip di tahun 1928. Pertemuan yang dinamai Kongres Pemuda II tersebut telah melahirkan semangat baru bagi perjuangan kemerdekaan pada jaman itu yang saat ini dikenal dengan Sumpah Pemuda.

Pada zaman penjajahan Belanda, tak mudah bagi para pemuda untuk bertemu, apalagi dalam bentuk kongres. Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 nyaris gagal dilantangkan di Kongres Pemuda II. Pasalnya, Kongres Pemuda II di Gedung Kramat 106 hampir dibubarkan dinas intelijen politik Belanda, Politieke Inlichtingen Dienst (PID).

Kongres Pemuda II yang berlangsung pada 27-28 Oktober dilaksanakan dalam tiga tahapan rapat.

Pertama di gedung Katholieke Jongelingen Bond di Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Kedua, di Oost Java Bioscoop di Konigsplein Noord (sekarang Jalan Medan Merdeka Utara). Ketiga di Gedung Kramat 106 sekaligus penutupan rapat.

Rapat ketiga pada Senin malam, 28 Oktober 1928, hampir bubar. Sebab, petugas PID menyela rapat. Mereka mengancam mengeluarkan peserta rapat di bawah usia 18 tahun karena mendengar perkataan ‘kemerdekaan’. Padahal dari total 750 peserta rapat, banyak yang berusia di bawah 18 tahun.

Belanda memang selalu mengawasi ketat kegiatan rapat pemuda. Sebab, saat itu Gubernur Jenderal H.J. de Graff menjalankan politik tangan besi.

Belanda sebenarnya mengakui hak penduduk di atas 18 tahun mengadakan perkumpulan dan rapat. Namun mereka bisa sewaktu-waktu memberlakukan vergader-verbod atau larangan mengadakan rapat, karena dianggap menentang pemerintah.

Tak heran jika Kongres Pemuda II diintai ketat PID. Meski sempat disela PID, rapat Kongres Pemuda II akhirnya terus berjalan. Ketua rapat Soegondo Djojopoespito pun membacakan resolusi.

Di rumah Jalan Kramat Raya 106 milik Sie Kok Liong yang juga merupakan rumah kos Muhammad Yamin, Aboe Hanifah, Amir Sjarifuddin, A.K. Gani, Mohammad Tamzil, dan Assaat dt Moeda, tiga butir sumpah pemuda berkumandang.


1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertanah air Indonesia.
2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa Indonesia.
3. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa, bahasa Indonesia.

Menurut Sejarawan Anhar Gonggong Nasution, pada 28 Oktober 1928 hasil Kongres Pemuda II memang tidak langsung dinamai Sumpah Pemuda. Nama hasil kongres pada waktu itu adalah "Ikrar Pemuda". Barulah pada 1930-an diubah oleh Muhammad Yamin menjadi Sumpah Pemuda seperti yang sering kita ucapkan saat ini;

1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah satu, tanah Indonesia. 
2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku Berbangsa satu, bangsa Indonesia.
3. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia".


Anhar menjelaskan, keinginan untuk memperingati Sumpah Pemuda muncul dari gagasan Ki Hajar Dewantara pada 1948. Ki Hajar kemudian menyampaikan usulan ini kepada Presiden Sukarno dan sejak itulah peringatan Hari Sumpah Pemuda dirayakan dengan lebih semarak. Sebelum tahun tersebut, pada 28 Oktober hanya peringatan pergerakan nasional.

Anhar menegaskan penambahan kata satu dan pengubahan nama hasil Kongres Pemuda II justru bertujuan untuk mempekuat ikatan kebangsaan yang sedang dirongrong kembali oleh berbagai pergerakan di dalam negeri.

Pada saat Kongres berlangsung, seorang pemuda langsing yang dikenal sebagai wartawan yang suka bermain musik sambil menenteng biola menyodorkan secarik kertas berisi syair lagu yang digubahnya kepada sang Ketua Sidang Soegondo Djojopoespito.

Melihat judul Indonesia Raya, Soegondo segera melirik polisi Belanda yang serius mengamati jalannya Kongres. Jeda sidang, Soegondo menyetujui pemuda yang bernama W.R. Supratman itu membawakan karyanya. Tapi syaratnya, tanpa syair. Alasannya, dalam syair Indonesia Raya terdapat banyak kata Indonesia dan merdeka. Kata-kata yang membuat khawatir akan menimbulkan masalah pada Kongres.

Akhirnya sidang ditutup pukul 22.00 lewat. Pemuda W.R. Soepratman maju ke depan. Ia membungkukkan badan, mulai memainkan biola. Indonesia Raya tanpa syair berkumandang. Tepuk tangan panjang mengiringi akhir lagu yang kini dikenal sebagai lagu kebangsaan Indonesia.

Kongres Pemuda II memang menjadi sarana bagi lagu Indonesia Raya digaungkan untuk pertama kalinya. Namun, menurut buku Ensiklopedia Musik Jilid 1, terbitan 1992, lagu ini sudah direkam sebelum kongres digelar, yakni pada 1927.

Kala itu, lagu direkam dalam format instrumentalia. Dan judulnya belum Indonesia Raya, melainkan Indonees, Indonees. “Informasi ini ada di surat pembaca Kompas yang dikirim dari Hongkong pada 1971,” tulis Ensiklopedia Musik di halaman 239.

Dari sumber berbeda, tulis Ensiklopedia Musik, Indonesia Raya untuk pertama kalinya direkam oleh Yo Kim Tjan. Dalam piringan hitam itu, lagu tak beralun dengan alat musik saja, melainkan ada suara Supratman di sana.

Pada 1957, rekaman itu diserahkan Yo Kim Tjan ke Djawatan Kebudajaan. Namun, setahun kemudian, plat Supratman dinyatakan hilang. “Informasi ini dimuat majalah Star Weekly pada 1957, lalu dikutip Musika di 1958.”

Pada gubahan pertama, Supratman memang tak menggunakan kata Indonesia Raya. Supratman memilih kata Indonees, Indonees. Perubahan lirik itu ditetapkan oleh suatu sidang yang dipimpin Soekarno pada 8 September 1944.

Dalam sidang itu, hadir sejumlah anggota, yakni Ki Hajar Dewantara, Achiar, Soedibjo, Darmawidjaja, Koesbini, Mohammad Yamin, M Mansjur, Sanusi Pane, Simandjuntak, Achmad Soebardjo, Mr. Oetojo, dan Mr Sastromoeljono.

Hasil gubahan lagu Indonesia Raya tidak pernah didengar Supratman. Sebab, si pencipta telah dulu meninggal pada 17 Agustus 1938. Kala itu, usia Supratman sekitar 35 tahun. Beliau mangkat pukul 00.00 akibat kesehatannya yang terus memburuk setelah diinterograsi Politieke Inlichtingen Dienst.

Ikrar Sumpah Pemuda yang dipekikkan pada tanggal 28 Oktober 1928 pada penutupan Kongres Pemuda II merupakan intisari dari hasil Kongres Pemuda Pertama yang diketuai Mohammad Tabrani Soerjowitjitro yang diselenggarakan pada 30 April - 2 Mei 1926.

Kongres Pemuda Pertama bertujuan menggugah semangat kerja sama di antara bermacam-macam organisasi pemuda di tanah air sehingga dapat diwujudkan dasar pokok lahirnya persatuan Indonesia di tengah-tengah bangsa di dunia.

Dalam kongres berbahasa Belanda tersebut, salah seorang panitia kongres, Bahder Djohan menyampaikan materi tentang kedudukan wanita dalam masyarakat Indonesia, Panitia kongres lainnya, Paul Pinontoan mengulas tentang peranan agama dalam gerakan nasional. Sedangkan tokoh pemuda Muhammad Yamin membahas soal masa depan bahasa-bahasa Indonesia dan kesusastraannya.

Sayangnya, laporan kongres yang berjudul Verslag van Het Eerste Indonesisch Jeugdcongress (Laporan Kongres Pemuda Indonesia Pertama) yang diterbitkan oleh Panitia Kongres telah dimusnahkan Belanda.

Tagged as:
BuLdoG

Dari, Oleh, Untuk Buleleng

Dapatkan Info Terbaru Dari Suara Buleleng

Masukkan alamat e-mail Anda agar kami dapat mengirimkan Berita Terbaru langsung ke mailbox Anda

Share This Post

Topik Terkait

0 komentar:

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

© 2013 SUARA BULELENG. WP Theme-junkie converted by BloggerTheme9
Blogger templates. Proudly Powered by Blogger.
back to top