WASPADA, "Sang Kala Tiga Wisesa" Galungan
Posted by Unknown
on Minggu, 20 Oktober 2013
0
Rangkaian perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan merupakan rangkaian perayaan yang paling panjang di antara hari-hari raya Agama Hindu, jarak waktunya selama 60 hari dimana rangkaiannya terdiri dari :
- Hari Sabtu Kliwon Wariga yang disebut dengan Tumpek Pengarah atau Pengatag, tepatnya 25 hari sebelum Hari Raya Galungan
- Sugihan Jawa atau Sugihan Jaba, jatuh pada hari Kamis Wage Sungsang.
- Sugihan Bali, Jatuh pada hari Jumat Kliwon wuku Sungsang (sehari setelah Sugihan Jawa)
- Panyekeban, Jatuh pada hari Minggu Pahing Dungulan.
- Penyajaan, jatuh pada hari Senin Pon Dungulan.
- Penampahan, jatuh pada hari Selasa Wage Dungulan tepat sehari sebelum hari Raya Galungan.
- Galungan – lebar puasa ; Jatuh pada hari Rabu Kliwon wuku Dungulan.
- Manis Galungan;
- Pemaridan Guru, Jatuh pada hari Sabtu Pon Dungulan
- Pemacekan Agung; Jatuh pada hari Senin Kliwon wuku Kuningan. Tepat pada hari ini merupakan hari pertengahan dari rangkaian panjang hari raya Galungan. Hari ini tepat 30 hari dari sejak hari Tumpek Pengarah, dan 30 hari menjelang hari Pegat Uwakan (Buda Kliwon Pahang).
- Sepuluh hari setelah Galungan disebut Kuningan.
Dari rangkaian hari Raya Galungan dan Kuningan tersebut diatas, kita mesti mewaspadai setiap bentuk godaan- godaan yang datang sejak hari Penyekeban sampai Penampahan Galungan. Dalam rangkaian peringatan Galungan, pustaka-pustaka mengajarkan bahwa sejak Redite Pahing Dungulan kita didatangi oleh Kala Tiganing Galungan. Sang Kala Tiga ialah Sang Bhuta Galungan, Sang Bhuta Dungulan dan Sang Bhuta Amangkurat. Disebutkan dalam pustaka-pustaka itu: mereka adalah simbul angkara (keletehan). Jadi dalam hal ini umat berperang, bukanlah melawan musuh berbentuk fisik, tetapi kala keletehan dan adharma yang terdapat dalam diri umat. Berjuang, berperang antara dharma untuk mengalahkan adharma. Menilik nama-nama itu, dapatlah kiranya diartikan sebagai berikut:
- Hari pertama = Sang Bhuta Galungan.
Galungan berarti berperang/ bertempur. Berdasarkan ini, boleh kita artikan bahwa pada hari Redite Pahing Dungulan kita baru kedatangan bhuta (kala) yang menyerang (kita baru sekedar diserang).
- Hari kedua = Sang Bhuta Dungulan.
Ia mengunjungi kita pada hari Soma Pon Dungulan keesokan harinya. Kata Dungulan berarti menundukkan/ mengalahkan.
- Hari ketiga = Sang Bhuta Amangkurat
Hari Anggara Wage Dungulan kita dijelang oleh Sang Bhuta Amangkurat. Amangkurat sama dengan menguasai dunia. Dimaksudkan menguasai dunia besar (Bhuwana Agung), dan dunia kecil ialah badan kita sendiri (Bhuwana Alit).
Pendeknya, mula-mula kita diserang kemudian ditundukkan dan akhirnya dikuasai. Ini yang akan terjadi jika kita tidak waspada, keletehan benar-benar akan menguasai kita, bila kita pasif saja kepada serangan-serangan itu atau membiarkan pikiran kita terjebak oleh pengaruh negatif. Dalam hubungan inilah Sundarigama mengajarkan agar pada hari-hari ini umat den prayitna anjekung jnana nirmala, lamakane den kasurupan. "Hendaklah umat meneguhkan hati agar jangan sampai terpengaruh oleh bhuta-bhuta (keletehan-keletehan) hati tersebut." Inilah hakikat Abhya Kala (mabiakala) dan metetebasan yang dilakukan pada hari Penampahan itu.
Lalu, bagaimanakah caranya meneguhkan Jnana kita..?
Kata “Jnana” dalam kamus Kawi-Indonesia ditulis artinya sebagai : ilmu, pengetahuan, pikiran, dan kesadaran. Dengan merangkum arti kata itu dapat dikatakan bahwa Jnana merupakan kemampuan untuk mengenali jati diri yang sejati atau self knowledge (pengetahuan tentang diri sendiri). Self knowledge adalah Self realization (pencerahan diri). Jnana membutuhkan pengendalian pikiran melalui upaya-upaya yang sepadan selain pengetahuan umum dan pengetahuan tentang ke-Tuhanan yang diperoleh dari pendidikan baik formal maupun non formal. Pengetahuan saja belumlah cukup untuk meneguhkan pikiran, namun perlu adanya kesadaran diri dengan jalan melatih diri sendiri untuk senantiasa menjaga pikiran tetap terkendali sehingga tidak terjebak untuk berbicara serta berprilaku kurang baik.
Manusia adalah mahluk tertinggi ciptaan Tuhan yang mendiami maya pada ini. Manusia satu-satunya mahluk yang dikaruniai pikiran (Jnana) dan kecerdasan (Buddhi). Dengan karunia ini manusia bisa memilah kemudian memilih mana yang patut dan yang tidak patut, mana yang perlu diimprove dan mana yang perlu dijaga dan dipertahankan. Dengan anugrah Jnana/pikiran ini manusia bisa menganalisa, memecahkan segala persoalan hidupnya, tidak melulu hanya mengandalkan naluri atau kebiasaan yang diajarkan pendahulunya. Manusia selalu berusaha mencari jawaban dari setiap keraguan hidup yang ditemuinya selama perjalanan di maya pada ini.
Seberapa besar keteguhan manusia untuk menjaga pikirannya agar tidak terpengaruh oleh Sang Kala Tiga, sebesar itulah kemenangan Dharma yang sesungguhnya akan diraih yang nantinya juga mempengaruhi kehidupan manusia (Bhuwana Alit) di Dunia (Bhuwana Agung) ini.
Menurut Pustaka (lontar) Djayakasunu, pada hari Galungan itu Ida Sanghyang Widhi menurunkan anugrah berupa kekuatan iman, dan kesucian batin untuk memenangkan dharma melawan adharma. Menghilangkan keletehan dari hati kita masing-masing. Memperhatikan makna Hari Raya Galungan itu, maka patutlah pada waktu-waktu itu, umat bergembira dan bersuka ria. Gembira dengan penuh rasa Parama Suksma, rasa terimakasih, atas anugrah Hyang Widhi. Gembira atas anugrah tersebut, gembira pula karena Bhatara-bhatara, jiwa suci leluhur, sejak dari sugi manek turun dan berada di tengah-tengah pratisentana sampai dengan Hari Kuningan.
Namun dalam jaman Kaliyuga, kegembiraan dalam menyambut kemenangan Dharma acapkali dilakukan dengan euforia yang berlebihan sehingga menjadi melenceng dari filosofi Galungan itu sendiri. Perayaan menyambut kemenangan tidak lagi didasari oleh makna dari masing-masing runtutan hari lain yang menyertai Hari Raya Galungan. Disinilah peran self knowledge sangat diperlukan guna meningkatkan kesadaran diri dalam rangka mencapai keharmonisan kehidupan. Apabila kita terlena oleh bujukan, rayuan, pengaruh apalagi sampai ditundukkan Sang Kala Tiga, maka dengan mudah kita akan dikuasai, dikendalikan oleh sifat jahat yang menjerumuskan ke lembah penderitaan di masa yang akan datang.
Menang sekejap untuk kekalahan tak berujung ataukah mengalah untuk kemenangan sesungguhnya yang akan kita pilih..? Semua itu terletak pada kesadaran diri kita masing-masing dalam meyakini tujuan Agama Hindu "Moksartham Jagaditha Ya Caiti Dharma".
Dari berbagai sumber.
Tagged as: Hindu
BuLdoG
Dari, Oleh, Untuk Buleleng
Dapatkan Info Terbaru Dari Suara Buleleng
Masukkan alamat e-mail Anda agar kami dapat mengirimkan Berita Terbaru langsung ke mailbox Anda
Share This Post
Topik Terkait

0 komentar: