Info Terkini

Tampilkan postingan dengan label Fasilitas Publik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fasilitas Publik. Tampilkan semua postingan

Kenaikan Tarif PDAM Buleleng Sesuai Perbup

Dampak kenaikan BBM tampaknya berimbas disemua urat nadi perekonomian tidak terkecuali air minum yang dikelola PDAM. Pasalnya PDAM untuk memberikan pelayanan yang berkualitas secara continue kepada pelanggan membutuhkan biaya oprasional dan pemeliharaan yang cukup besar. “Kenaikan air minum sesuai dengan prosudur dengan mengantongi Perbup No 45 Tahun 2014 tentang penyesuaian tarif air minum dan Peraturan Menteri Dalam Negeri No 23 Tahun 2006 tentang pedoman tekhnis tata cara pengaturan tarif air minum”.

Demikian dikatakan Dirut PDAM Buleleng Made Lestariana didampingi Direktur Tehnik Nyoman Suwirta dan Kabag Pelayanan Putu Budiarta pada saat melakukan sosialisasi Perbup No.45 Tahun 2014 tentang Penyesuaian tarif air minum kepada masyarakat melalui media cetak maupun elektronik, Selasa (2/12)

Alasan diadakannya penyesuaian tarif air minum PDAM, menurut Lestariana diakibatkan kenaikan biaya operasional dan pemeliharaan yang diakibatkan kenaikan tarif listrik, kenaikan harga material, kenaikan ongkos kerja.

”Tarif yang diberlakukan saat ini masih dibawah harga pokok air. Begitu juga keterbatasan dana perisahaan dalam rangka investasi pengembangan kapasitas produksi serta perluasan jaringan pipa guna peningkatan cakupan pelayanan” terangnya.

Lebih lanjut Lestariana mengatakan dengan adanya penyesuaian tariff ini, maka pengeluaran rumah tangga untuk pemenuhan standar kebutuhan pokok air minum adalah Rp 28 ribu yang terdiri dari biaya abonemen sebesar Rp 12 ribu dan biaya pemakaian air (10 M3) sebesar Rp 16 ribu. Sehingga masih jauh dibawah standar asas keterjangkauan yakni Rp 61.700.

”kalau berdasarkan data pemakaian air rata-rata oleh pelanggan rumah tangga adalah sebesar 19 m3 perbulan. Maka setiap kepala keluarga akan membayar rekening air setiap bulannya sebesar Rp 56.800 yang terdiri dari biaya abonemen dan biaya pemakaian” terangnya.

”Apabila diasumsikan 1 keluarga terdiri 5 orang, maka setiap orang membayar atau mengkonsumsi air sebesar Rp 379 perhari” pungkas Lestariana. (MB)

Kenaikan Tarif PDAM Buleleng Sesuai Perbup

Posted by Unknown No comments

Dampak kenaikan BBM tampaknya berimbas disemua urat nadi perekonomian tidak terkecuali air minum yang dikelola PDAM. Pasalnya PDAM untuk memberikan pelayanan yang berkualitas secara continue kepada pelanggan membutuhkan biaya oprasional dan pemeliharaan yang cukup besar. “Kenaikan air minum sesuai dengan prosudur dengan mengantongi Perbup No 45 Tahun 2014 tentang penyesuaian tarif air minum dan Peraturan Menteri Dalam Negeri No 23 Tahun 2006 tentang pedoman tekhnis tata cara pengaturan tarif air minum”.

Demikian dikatakan Dirut PDAM Buleleng Made Lestariana didampingi Direktur Tehnik Nyoman Suwirta dan Kabag Pelayanan Putu Budiarta pada saat melakukan sosialisasi Perbup No.45 Tahun 2014 tentang Penyesuaian tarif air minum kepada masyarakat melalui media cetak maupun elektronik, Selasa (2/12)

Alasan diadakannya penyesuaian tarif air minum PDAM, menurut Lestariana diakibatkan kenaikan biaya operasional dan pemeliharaan yang diakibatkan kenaikan tarif listrik, kenaikan harga material, kenaikan ongkos kerja.

”Tarif yang diberlakukan saat ini masih dibawah harga pokok air. Begitu juga keterbatasan dana perisahaan dalam rangka investasi pengembangan kapasitas produksi serta perluasan jaringan pipa guna peningkatan cakupan pelayanan” terangnya.

Lebih lanjut Lestariana mengatakan dengan adanya penyesuaian tariff ini, maka pengeluaran rumah tangga untuk pemenuhan standar kebutuhan pokok air minum adalah Rp 28 ribu yang terdiri dari biaya abonemen sebesar Rp 12 ribu dan biaya pemakaian air (10 M3) sebesar Rp 16 ribu. Sehingga masih jauh dibawah standar asas keterjangkauan yakni Rp 61.700.

”kalau berdasarkan data pemakaian air rata-rata oleh pelanggan rumah tangga adalah sebesar 19 m3 perbulan. Maka setiap kepala keluarga akan membayar rekening air setiap bulannya sebesar Rp 56.800 yang terdiri dari biaya abonemen dan biaya pemakaian” terangnya.

”Apabila diasumsikan 1 keluarga terdiri 5 orang, maka setiap orang membayar atau mengkonsumsi air sebesar Rp 379 perhari” pungkas Lestariana. (MB)

Pasek Kaget Bali Utara Belum Terakses TV?

Ketua Panitia Perancang Undang-Undang DPD, Gede Pasek Suardika tiba-tiba saja curhat kepada Menkominfo, Rudiantara. Karena konstituennya, kata Senator dari Bali itu, mengeluh tak bisa menerima akses informasi, khususnya Televisi. Wilayah yang belum terakses saluran TV itu, sekitar Bali Utara.

Namun bagi Pasek, kondisi ini mengejutkan dan sekaligus terasa menggelikan sekali, mengingat Propinsi Bali sudah dikenal dunia internasional, bahkan keterkenalannya itu melebihi Indonesia. "Ini sangat lucu. Televisi itu tak bisa diakses di sana," ucap Pasek disertai tawa anggota DPD dan mitra kerja yang hadir dalam forum rapat, kemarin.

Oleh karena itu, aktivis Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI), berharap adanya perhatian khusus dari seluruh stakeholder yang membidani masalah komunikasi dan informasi. "Parabola ada, tapi konstituen saya mengaku tetap saja tidak bisa mengakses," ujar Pasek lagi

Mantan anggota Komisi III DPR yang pernah menyindir PDIP soal aksi walk out itu berharap perlu adanya dukungan dari sejumlah pihak supaya mendukung kebutuhan infrastruktur demi tercapainya keinginan masyarakat Bali Utara untuk mengakses informasi media televisi. "Jadi untuk masyarakat di Kawasan Buleleng yang merupakan area terbanyak penduduknya di bagian wilayah Bali Utara itu sama sekali belum bisa mengakses televisi. Di Bali saja begitu kondisinya, bagaimana daerah-daerah terpencil lainnya," tandasnya. (TS)

Pasek Kaget Bali Utara Belum Terakses TV?

Posted by Unknown 1 comment

Ketua Panitia Perancang Undang-Undang DPD, Gede Pasek Suardika tiba-tiba saja curhat kepada Menkominfo, Rudiantara. Karena konstituennya, kata Senator dari Bali itu, mengeluh tak bisa menerima akses informasi, khususnya Televisi. Wilayah yang belum terakses saluran TV itu, sekitar Bali Utara.

Namun bagi Pasek, kondisi ini mengejutkan dan sekaligus terasa menggelikan sekali, mengingat Propinsi Bali sudah dikenal dunia internasional, bahkan keterkenalannya itu melebihi Indonesia. "Ini sangat lucu. Televisi itu tak bisa diakses di sana," ucap Pasek disertai tawa anggota DPD dan mitra kerja yang hadir dalam forum rapat, kemarin.

Oleh karena itu, aktivis Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI), berharap adanya perhatian khusus dari seluruh stakeholder yang membidani masalah komunikasi dan informasi. "Parabola ada, tapi konstituen saya mengaku tetap saja tidak bisa mengakses," ujar Pasek lagi

Mantan anggota Komisi III DPR yang pernah menyindir PDIP soal aksi walk out itu berharap perlu adanya dukungan dari sejumlah pihak supaya mendukung kebutuhan infrastruktur demi tercapainya keinginan masyarakat Bali Utara untuk mengakses informasi media televisi. "Jadi untuk masyarakat di Kawasan Buleleng yang merupakan area terbanyak penduduknya di bagian wilayah Bali Utara itu sama sekali belum bisa mengakses televisi. Di Bali saja begitu kondisinya, bagaimana daerah-daerah terpencil lainnya," tandasnya. (TS)

Wabup Soroti Atap Wantilan di Eks Pelabuhan Buleleng


Wantilan yang berdiri di objek wisata eks Pelabuhan Buleleng mendapat sorotan Wakil Buleleng Buleleng ,dr.Nyoman Sutjidra. Pasalnya, wantilan yang biasanya digunakan untuk rehat oleh pengunjung, yang termasuk bangunan penting dan perlu mendapat perhatian, ternyata mengalami kerusakan di bagian atapnya.

Dalam sidak, Senin,24/11, Wabup bersama Kepala Inspektorat Ir. Ketut Yasa, selepas mengamati atap wantilan yang keropos. Terkait kerusakan itu, Wabup mengatakan sebenarnya anggaran untuk perbaikan wantilan sudah diplot di tahun 2015. Dinas PU sudah menghitung RAB yang dibutuhkan untuk memperbaikinya sekitar Rp.400 juta.

Karena baru pada tahun 2015 digarap, Wabup meminta dinas terkait, yakni Dinas Budpar Buleleng yang mengelola objek wisata tersebut, untuk sementara menurunkan genteng-genteng agar tidak membahayakan pengunjung yang senantiasa ramai, dari pagi sampai sore. (HB)

Wabup Soroti Atap Wantilan di Eks Pelabuhan Buleleng

Posted by Unknown No comments


Wantilan yang berdiri di objek wisata eks Pelabuhan Buleleng mendapat sorotan Wakil Buleleng Buleleng ,dr.Nyoman Sutjidra. Pasalnya, wantilan yang biasanya digunakan untuk rehat oleh pengunjung, yang termasuk bangunan penting dan perlu mendapat perhatian, ternyata mengalami kerusakan di bagian atapnya.

Dalam sidak, Senin,24/11, Wabup bersama Kepala Inspektorat Ir. Ketut Yasa, selepas mengamati atap wantilan yang keropos. Terkait kerusakan itu, Wabup mengatakan sebenarnya anggaran untuk perbaikan wantilan sudah diplot di tahun 2015. Dinas PU sudah menghitung RAB yang dibutuhkan untuk memperbaikinya sekitar Rp.400 juta.

Karena baru pada tahun 2015 digarap, Wabup meminta dinas terkait, yakni Dinas Budpar Buleleng yang mengelola objek wisata tersebut, untuk sementara menurunkan genteng-genteng agar tidak membahayakan pengunjung yang senantiasa ramai, dari pagi sampai sore. (HB)

Pasca Blokir Jalan, Warga Sumberklampok Minta Maaf

Singaraja, Suara Buleleng - Pasca pemblokiran jalan di Buleleng selama dua hari, warga meminta maaf.

”Kami memohon maaf atas pemblokiran jalan yang telah terjadi. Peristiwa itu merupakan inisiatif warga yang sudah lama menunggu proses peralihan menjadi sertifikat hak milik (SHM),” terang Kelian Desa Pakraman Sumberklampok, Jro Gede Nadia saat bersama enam perwakilan warga Desa Sumberklampok mendatangi Kantor Bupati Buleleng, Rabu (13/11).

Kehadiran perwakilan warga itu diterima langsung Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana di ruang rapat Kantor Bupati Buleleng. Menurut Jro Gede Nadia terkait diurungkannya warga bertemu dengan Gubernur Bali pada Senin (11/11) lalu hal itu guna meredam masyarakat. “Kami bersama-sama dengan warga berjanji tidak akan mengulang kejadian lalu dan menunggu proses dari Pansus dengan damai” ujarnya.

Atas permasalahan itu Bupati Putu Agus Suradnyana meminta warga bersabar dan mengikuti proses pembentukan pansus aset di DPRD Bali. “Kami meminta agar tidak memblokir jalan raya untuk kedua kalinya” pintanya. (KDB)

Pasca Blokir Jalan, Warga Sumberklampok Minta Maaf

Posted by Unknown No comments

Singaraja, Suara Buleleng - Pasca pemblokiran jalan di Buleleng selama dua hari, warga meminta maaf.

”Kami memohon maaf atas pemblokiran jalan yang telah terjadi. Peristiwa itu merupakan inisiatif warga yang sudah lama menunggu proses peralihan menjadi sertifikat hak milik (SHM),” terang Kelian Desa Pakraman Sumberklampok, Jro Gede Nadia saat bersama enam perwakilan warga Desa Sumberklampok mendatangi Kantor Bupati Buleleng, Rabu (13/11).

Kehadiran perwakilan warga itu diterima langsung Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana di ruang rapat Kantor Bupati Buleleng. Menurut Jro Gede Nadia terkait diurungkannya warga bertemu dengan Gubernur Bali pada Senin (11/11) lalu hal itu guna meredam masyarakat. “Kami bersama-sama dengan warga berjanji tidak akan mengulang kejadian lalu dan menunggu proses dari Pansus dengan damai” ujarnya.

Atas permasalahan itu Bupati Putu Agus Suradnyana meminta warga bersabar dan mengikuti proses pembentukan pansus aset di DPRD Bali. “Kami meminta agar tidak memblokir jalan raya untuk kedua kalinya” pintanya. (KDB)

Ganti Rugi Waduk Titab Selesai, Satu Orang Konsinyasi


Singaraja, Suara Buleleng - Setelah direalisasikan ganti rugi lahan untuk Pembangunan Waduk Titab di kecamatan Busungbiu dari dana Pemerintah Pusat dan APBD Buleleng, Rabu (13/11/2013) kembali dilakukan pencairan dana dari Pemerintah Provinsi Bali yang berlangsung di Gedung Wanita Laksmigraha Singaraja.

“ini merupakan tahapan pelaksanaan ganti rugi terakhir dari dana Pemerintah Provinsi Bali, dan diharapkan tidak ada masalah lagi yang menyangkut tentang administrasi,” ungkap Asisten I Setda Buleleng Ida Bagus Surya Manuaba.

Ganti rugi lahan itu diserahkan untuk 71 kepala keluarga di Desa Busungbiu dan Desa Kekeran. Total dana yang digelontorkan dari APBD Provinsi Bali mencapai 39 miliar rupiah lebih untuk lahan seluas 38,71 hektare.

Sementara untuk pembebasan bangunan pemerintah merealisasikan dana 804 juta rupiah lebih. Hanya saja, proses ganti rugi lahan tersebut masih menyisakan persoalan. Pasalnya, salah seorang warga bernama Ketut Sara, belum bisa menyerahkan bukti kepemilikan lahan. Pemerintah akhirnya menyerahkan dana 50 juta rupiah kepada Pengadilan Negeri Singaraja alias melakukan konsinyasi. (BRU)

Ganti Rugi Waduk Titab Selesai, Satu Orang Konsinyasi

Posted by Unknown No comments


Singaraja, Suara Buleleng - Setelah direalisasikan ganti rugi lahan untuk Pembangunan Waduk Titab di kecamatan Busungbiu dari dana Pemerintah Pusat dan APBD Buleleng, Rabu (13/11/2013) kembali dilakukan pencairan dana dari Pemerintah Provinsi Bali yang berlangsung di Gedung Wanita Laksmigraha Singaraja.

“ini merupakan tahapan pelaksanaan ganti rugi terakhir dari dana Pemerintah Provinsi Bali, dan diharapkan tidak ada masalah lagi yang menyangkut tentang administrasi,” ungkap Asisten I Setda Buleleng Ida Bagus Surya Manuaba.

Ganti rugi lahan itu diserahkan untuk 71 kepala keluarga di Desa Busungbiu dan Desa Kekeran. Total dana yang digelontorkan dari APBD Provinsi Bali mencapai 39 miliar rupiah lebih untuk lahan seluas 38,71 hektare.

Sementara untuk pembebasan bangunan pemerintah merealisasikan dana 804 juta rupiah lebih. Hanya saja, proses ganti rugi lahan tersebut masih menyisakan persoalan. Pasalnya, salah seorang warga bernama Ketut Sara, belum bisa menyerahkan bukti kepemilikan lahan. Pemerintah akhirnya menyerahkan dana 50 juta rupiah kepada Pengadilan Negeri Singaraja alias melakukan konsinyasi. (BRU)

Merokok di Tengah Penerbangan, Seorang Pria Bikin Geger Pesawat Lion

Jakarta, Suara Buleleng - Seorang pria membuat kegaduhan di dalam pesawat rute Balikpapan-Tarakan lantaran merokok di dalam pesawat Lion Air. Ulahnya itu diketahui oleh penumpang lain yang kemudian dilaporkan kepada kru pesawat.

Peristiwa itu terjadi Selasa (12/11) kemarin di pesawat Lion Air rute Balikpapan-Tarakan. Seorang pria bertopi dengan celana jeans pendek dan bertato bersama rekannya duduk di seat 33E dan 33F. Take off sekitar pukul 20.00 WITA dari Bandara Sepinggan Balikpapan, baru sekitar 30 menit, penumpang mencium bau asap rokok di dalam pesawat.

"Saya kaget karena saya mencium bau benda terbakar seperti rokok. Setelah saya cari ternyata ada yang merokok di seat 33E. Dia melihat saya dan langsung menyembunyikan rokoknya yang masih menyala di antara pahanya. Mulutnya masih mengeluarkan asap," kata Mohammad Santosa Rabu (13/11/2013).

Santosa saat itu duduk di seat 33A. Kebetulan seat 33B, 33C dan 33D kosong tanpa penumpang, sehingga ia bisa melihat si pemuda itu langsung yang merokok di seat 33E. "Sontak saya lepas seatbelt dan berteriak ke orang tersebut untuk mematikan rokoknya," ujarnya.

"Saya ambil rokok dan korek gasnya. Saya marahi, kamu tahu bahaya merokok di pesawat? Bisa terbakar!" ujar Santosa kepada penumpang.

Santosa tak habis pikir ada orang yang merokok di dalam pesawat. Kepada Santosa, pemuda itu mengatakan merokok karena istrinya pergi. "Tapi alasan apapun tetap nggak boleh merokok di pesawat," ucapnya.

Kemudian Santosa menyerahkan si pemuda itu kepada pramugari yang ada di bagian belakang. Gegerlah setengah pesawat yang di seat belakang karena baru tahu kalau ada yang merokok di pesawat. Pemuda diproses oleh pramugari dan security di dalam pesawat. (DN)

Merokok di Tengah Penerbangan, Seorang Pria Bikin Geger Pesawat Lion

Posted by Unknown No comments

Jakarta, Suara Buleleng - Seorang pria membuat kegaduhan di dalam pesawat rute Balikpapan-Tarakan lantaran merokok di dalam pesawat Lion Air. Ulahnya itu diketahui oleh penumpang lain yang kemudian dilaporkan kepada kru pesawat.

Peristiwa itu terjadi Selasa (12/11) kemarin di pesawat Lion Air rute Balikpapan-Tarakan. Seorang pria bertopi dengan celana jeans pendek dan bertato bersama rekannya duduk di seat 33E dan 33F. Take off sekitar pukul 20.00 WITA dari Bandara Sepinggan Balikpapan, baru sekitar 30 menit, penumpang mencium bau asap rokok di dalam pesawat.

"Saya kaget karena saya mencium bau benda terbakar seperti rokok. Setelah saya cari ternyata ada yang merokok di seat 33E. Dia melihat saya dan langsung menyembunyikan rokoknya yang masih menyala di antara pahanya. Mulutnya masih mengeluarkan asap," kata Mohammad Santosa Rabu (13/11/2013).

Santosa saat itu duduk di seat 33A. Kebetulan seat 33B, 33C dan 33D kosong tanpa penumpang, sehingga ia bisa melihat si pemuda itu langsung yang merokok di seat 33E. "Sontak saya lepas seatbelt dan berteriak ke orang tersebut untuk mematikan rokoknya," ujarnya.

"Saya ambil rokok dan korek gasnya. Saya marahi, kamu tahu bahaya merokok di pesawat? Bisa terbakar!" ujar Santosa kepada penumpang.

Santosa tak habis pikir ada orang yang merokok di dalam pesawat. Kepada Santosa, pemuda itu mengatakan merokok karena istrinya pergi. "Tapi alasan apapun tetap nggak boleh merokok di pesawat," ucapnya.

Kemudian Santosa menyerahkan si pemuda itu kepada pramugari yang ada di bagian belakang. Gegerlah setengah pesawat yang di seat belakang karena baru tahu kalau ada yang merokok di pesawat. Pemuda diproses oleh pramugari dan security di dalam pesawat. (DN)

Hari Pahlawan di Buleleng TMP Memprihatinkan

Singaraja, Suara Buleleng - Hari pahlawan di kabupaten Buleleng tampaknya belum memberikan senyum bagi para pahlawan. Buktinya taman makam pahlawan TMP Curastana di jalan pahlwan kondisinya masih memprihatinkan.

Adalah Kadek Karyana cucu seorang pejuang yang menyatakan kondisi tersebut. Hari pahlawan 10 Nopember dimanfaatkannya untuk mengunjungi makam sang kakek yang guur di medan juang. Betapa mirisnya hati Karyana saat melihat TMP seperti tak terawat. Misalnya sejumlah makam keramiknya lepas, tempat lilin juga lepas dan beberapa kerusakan lannya.

Atas kenyataan itu mantan anggota KPU Buleleng kadek Karyana meminta kepada SKPD terkait memperhatikan kenyataan yang terjadi. Pasalnya keluhan serupa tidak hanya disuarakan saat hari pahlawan "Saya mohon kepada pimpinan SKPD agar memperhatikan kerusakan yang terjadi,"pintanya. (BRU)

Hari Pahlawan di Buleleng TMP Memprihatinkan

Posted by Unknown No comments

Singaraja, Suara Buleleng - Hari pahlawan di kabupaten Buleleng tampaknya belum memberikan senyum bagi para pahlawan. Buktinya taman makam pahlawan TMP Curastana di jalan pahlwan kondisinya masih memprihatinkan.

Adalah Kadek Karyana cucu seorang pejuang yang menyatakan kondisi tersebut. Hari pahlawan 10 Nopember dimanfaatkannya untuk mengunjungi makam sang kakek yang guur di medan juang. Betapa mirisnya hati Karyana saat melihat TMP seperti tak terawat. Misalnya sejumlah makam keramiknya lepas, tempat lilin juga lepas dan beberapa kerusakan lannya.

Atas kenyataan itu mantan anggota KPU Buleleng kadek Karyana meminta kepada SKPD terkait memperhatikan kenyataan yang terjadi. Pasalnya keluhan serupa tidak hanya disuarakan saat hari pahlawan "Saya mohon kepada pimpinan SKPD agar memperhatikan kerusakan yang terjadi,"pintanya. (BRU)

Alat Peraga Kampanye Masih Marak di Buleleng

Singaraja, Suara Buleleng - Sosialisasi para Calon Anggota DPR RI, DPRD Propinsi maupun DPRD Kabupaten serta DPD semakin gencar dilakukan melalui pemasangan sejumlah alat peraga kampanye dalam berbagai bentuk, seperti baliho, spanduk, pamphlet maupun stiker, demikian juga para calon mulai memanfaatkan sejumlah media massa yang justru melanggar aturan yang telah ditetapkan, padahal KPU Kabupaten Buleleng dalam menyikapi rekomendasi Panwaslu Kabupaten Buleleng dengan tegas telah memberikan batas waktu hingga 14 Nopember.

“Langkah-langkah sosialisasi kepada para Calon Anggota DPR RI, DPRD Propinsi maupun DPRD Kabupaten serta DPD telah dilakukan, namun masih ada beberapa alat peraga kampanye yang melanggar masih terpasang sehingga kita nantinya, KPU bersama Panwaslu dan Tim Penataan akan melakukan penertiban, sebab tanggal 14 Nopember merupakan batas akhir,” ungkap Ketua KPU Kabupaten Buleleng, Gede Suardana, Selasa (12/11/2013) di KPU Buleleng.

Kesiapan penertiban alat peraga kampanye juga diungkapkan Kepala Badang Kesbangpollinmas Kabupaten Buleleng, Gede Gunawan AP, namun demikian pihaknya masih menunggu rekomendasi dari KPU Buleleng untuk melakukan penertiban pelanggaran alat peraga kampanye yang melanggar. “Pemkab dalam hal ini hanya membantu KPU dan Panwas sebagai penyelanggara Pemilu, penertiban yang dilakukan juga berdasarkan rekomendasi dari KPU,” ujarnya.

Berdasarkan hasil rekomendasi Panwaslu kepada KPU Buleleng menyebutkan adanya pelanggaran pemasangan alat peraga berupa atribut kampanye yang terdiri dari Baliho sebanyak 88 buah, spanduk sebanyak 14 buah, bendera tercatat sebanyak 15 buah, Banner sebanyak 7 buah dan pamphlet sebanyak 6 buah yang pemasangannya dilakukan di 231 titik secara tersebar.

Pelanggaran yang dilakukan para Calon Anggota DPR RI, DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten serta DPD maupun Parpol peserta Pemilu 2014 itu sebagian besar memasang alat peraga pada zonasi yang disebutkan bebas dari atribut kampanye, termasuk pemasangan Baliho para calon, demikian juga pemasangan dilakukan memanfaatkan sejumlah fasilitas umum seperti tiang listrik dan tiang telpon serta memanfaatkan pohon perindang. (BRU)

Alat Peraga Kampanye Masih Marak di Buleleng

Posted by Unknown No comments

Singaraja, Suara Buleleng - Sosialisasi para Calon Anggota DPR RI, DPRD Propinsi maupun DPRD Kabupaten serta DPD semakin gencar dilakukan melalui pemasangan sejumlah alat peraga kampanye dalam berbagai bentuk, seperti baliho, spanduk, pamphlet maupun stiker, demikian juga para calon mulai memanfaatkan sejumlah media massa yang justru melanggar aturan yang telah ditetapkan, padahal KPU Kabupaten Buleleng dalam menyikapi rekomendasi Panwaslu Kabupaten Buleleng dengan tegas telah memberikan batas waktu hingga 14 Nopember.

“Langkah-langkah sosialisasi kepada para Calon Anggota DPR RI, DPRD Propinsi maupun DPRD Kabupaten serta DPD telah dilakukan, namun masih ada beberapa alat peraga kampanye yang melanggar masih terpasang sehingga kita nantinya, KPU bersama Panwaslu dan Tim Penataan akan melakukan penertiban, sebab tanggal 14 Nopember merupakan batas akhir,” ungkap Ketua KPU Kabupaten Buleleng, Gede Suardana, Selasa (12/11/2013) di KPU Buleleng.

Kesiapan penertiban alat peraga kampanye juga diungkapkan Kepala Badang Kesbangpollinmas Kabupaten Buleleng, Gede Gunawan AP, namun demikian pihaknya masih menunggu rekomendasi dari KPU Buleleng untuk melakukan penertiban pelanggaran alat peraga kampanye yang melanggar. “Pemkab dalam hal ini hanya membantu KPU dan Panwas sebagai penyelanggara Pemilu, penertiban yang dilakukan juga berdasarkan rekomendasi dari KPU,” ujarnya.

Berdasarkan hasil rekomendasi Panwaslu kepada KPU Buleleng menyebutkan adanya pelanggaran pemasangan alat peraga berupa atribut kampanye yang terdiri dari Baliho sebanyak 88 buah, spanduk sebanyak 14 buah, bendera tercatat sebanyak 15 buah, Banner sebanyak 7 buah dan pamphlet sebanyak 6 buah yang pemasangannya dilakukan di 231 titik secara tersebar.

Pelanggaran yang dilakukan para Calon Anggota DPR RI, DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten serta DPD maupun Parpol peserta Pemilu 2014 itu sebagian besar memasang alat peraga pada zonasi yang disebutkan bebas dari atribut kampanye, termasuk pemasangan Baliho para calon, demikian juga pemasangan dilakukan memanfaatkan sejumlah fasilitas umum seperti tiang listrik dan tiang telpon serta memanfaatkan pohon perindang. (BRU)

Kampung Bugis Ditata Untuk ODTW Eks Pelabuhan Buleleng

Singaraja, Suara Buleleng - Salah satu kawasan pemukiman yang menjadi fokus pembenahan adalah pemukiman Kampung Bugis, Kecamatan Buleleng, pemukiman yang mengitari kawasan eks-Pelabuhan Buleleng tersebut dianggap mulai turun kualitasnya baik dari sisi lingkungan, sarana prasaran serta utilitas.

Menyikapi Hal tersebut Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Pekerjaan Umum menggelar semiloka penataan pemukiman Kampung Bugis yang digelar di Laksmi Graha, Senin (11/11/2013).

Dalam kegiatan yang dibuka Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi yang sifatnya strategis dalam penataan permukiman masyarakat, “ Kita harapkan hasilnya dapat menjadi acuan dalam penataan kawasan permukiman Kampung Bugis yang ideal untuk ditempati ” ujar Kepala Dinas PU Ketut Yasa.

Semiloka yang menghadirkan narasumber dari unsur akademisi dan birokrat ini pun menjadi sangat penting karena sesuai amanat Undang-Undang Nomor 1 tahun 2011 tentang perumahan dan pemukiman bahwa pencegahan dan peningkatan kualitas perumahan kumuh wajib dilakukan pemerintah, terlebih dalam Perda RTRW Buleleng Kampung Bugis menjadi salah satu penunjang ODTW ex-pelabuhan Buleleng.

“Nantinya keberadaan kelurahan kampung bugis akan menjadi daerah penyokong wisata, untuk itu dari sekarang kita mulai gerakan penataan“ tutur Bupati Agus Suradnyana.

Selain penataan permukiman, Bupati juga menyoroti kebersihan lingkungan sebagai salah satu aspek pendukung meningkatkanya kualitas permukiman khususnya kebersihan sungai dari sampah plastik yang kerap kali memenuhi kawasan sungai dan pesisir pantai eks-Pelabuhan Buleleng terutama pada musim hujan.

“Buleleng juga telah mengkampanyekan Buleleng bebas sampah plastik 2015, kita harapkan semua stakeholder bisa mendukung sehingga wisatawan tertarik kesana” tegasnya. (BRU)

Kampung Bugis Ditata Untuk ODTW Eks Pelabuhan Buleleng

Posted by Unknown No comments

Singaraja, Suara Buleleng - Salah satu kawasan pemukiman yang menjadi fokus pembenahan adalah pemukiman Kampung Bugis, Kecamatan Buleleng, pemukiman yang mengitari kawasan eks-Pelabuhan Buleleng tersebut dianggap mulai turun kualitasnya baik dari sisi lingkungan, sarana prasaran serta utilitas.

Menyikapi Hal tersebut Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Pekerjaan Umum menggelar semiloka penataan pemukiman Kampung Bugis yang digelar di Laksmi Graha, Senin (11/11/2013).

Dalam kegiatan yang dibuka Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi yang sifatnya strategis dalam penataan permukiman masyarakat, “ Kita harapkan hasilnya dapat menjadi acuan dalam penataan kawasan permukiman Kampung Bugis yang ideal untuk ditempati ” ujar Kepala Dinas PU Ketut Yasa.

Semiloka yang menghadirkan narasumber dari unsur akademisi dan birokrat ini pun menjadi sangat penting karena sesuai amanat Undang-Undang Nomor 1 tahun 2011 tentang perumahan dan pemukiman bahwa pencegahan dan peningkatan kualitas perumahan kumuh wajib dilakukan pemerintah, terlebih dalam Perda RTRW Buleleng Kampung Bugis menjadi salah satu penunjang ODTW ex-pelabuhan Buleleng.

“Nantinya keberadaan kelurahan kampung bugis akan menjadi daerah penyokong wisata, untuk itu dari sekarang kita mulai gerakan penataan“ tutur Bupati Agus Suradnyana.

Selain penataan permukiman, Bupati juga menyoroti kebersihan lingkungan sebagai salah satu aspek pendukung meningkatkanya kualitas permukiman khususnya kebersihan sungai dari sampah plastik yang kerap kali memenuhi kawasan sungai dan pesisir pantai eks-Pelabuhan Buleleng terutama pada musim hujan.

“Buleleng juga telah mengkampanyekan Buleleng bebas sampah plastik 2015, kita harapkan semua stakeholder bisa mendukung sehingga wisatawan tertarik kesana” tegasnya. (BRU)

Pendukung Terbatas, Kontraktor Pesimis Proyek Jalan Hotmix Bisa Tuntas

Singaraja, Suara Buleleng - Sejumlah kontraktor di Kabupaten Buleleng pesimis program perbaikan jalan secara tuntas yang dicanangkan Bupati Putu Agus Suradnyana tahun 2014 bisa tuntas. Meski Pemkab menyiapkan dana Rp 90 miliar, namun faktor pendukung untuk menuntaskan program itu sangat terbatas.

Informasi dari sejumlah kontraktor di Buleleng, Minggu (10/11) kemarin, menyebutkan bahwa dana Rp 90 miliar yang dianggarkan untuk perbaikan jalan tahun 2014 dipastikan tak akan semuanya bisa terserap. Pasalnya, faktor pendukung untuk mengerjakan jalan berhotmix di Buleleng masih sangat terbatas. Pabrik AMP (Aspal Mixing Plant) di Buleleng jumlahnya hanya dua. Bahkan di Bali, pabrik AMP hanya ada sekitar lima unit.

Sementara pengerjaan jalan berhotmix bukan hanya dilakukan di Buleleng, melainkan juga di kabupaten lain di Bali. "Belum lagi proyek dari APBD untuk jalan nasional," kata seorang kontraktor. Selain itu, jumlah kontraktor di Buleleng yang mampu mengerjakan jalan hotmix nyaris tidak ada. Selain karena faktor jaminan, tenaga kerja dan pendukung hotmix, risiko kerugian dalam pengerjaan jalan berhotmix sangat besar.

Jika mengandalkan kontraktor dari luar Bali, faktor kegagalannya sangat besar. Terbukti sudah ada sejumlah kontraktor dari luar Bali yang di-black-list karena kabur dari pengerjaan proyek jalan di Buleleng tahun 2013 ini. "Kalau pun ada kontraktor dari luar Bali yang menang, mereka juga harus didukung AMP dari Bali, dan itu sangat sulit diperoleh," katanya.

Ketua Gapensi Buleleng Nyoman Suasana alias Jenggo yang dimintai pendapat juga menyatakan sangat pesimis proyek perbaikan jalan dengan anggaran Rp 90 miliar itu akan bisa berjalan dengan maksimal. Menurutnya, niat Bupati untuk membuat jalan berhotmix dalam waktu yang cepat hingga ke desa-desa memang bagus. Namun harus diperhitungkan juga faktor pendukungnya, seperti ketersediaan hotmix dan kemampuan kontraktor lokal.

Jenggo mengatakan, hampir tidak ada kontraktor lokal yang bisa ikut tender dalam pengerjaan aspal hotmix tersebut. Kalau pun ada kontraktor besar, menurutnya juga akan berpikir beberapa kali untuk mengambil pekerjaan jalan berhotmix tersebut karena faktor pendukung seperti SDM, peralatan, dan bahan material berupa hotmix yang sangat terbatas. "Untuk sementara sebaiknya jalan di sejumlah desa dibiarkan dulu memakai aspal goreng, agar kontraktor lokal bisa mendapatkan pekerjaan," katanya.

Sementara itu, kontraktor Made Suarnawa alias Dek Mi juga menyatakan pesimis proyek pengerjaan jalan berhotmix itu bisa tuntas sesuai harapan Bupati pada tahun 2014 mendatang. Bahkan ia memperkirakan tidak akan banyak kontraktor yang ikut tender dalam proyek jalan tersebut. "Risiko ruginya tinggi, bahkan rentan jadi temuan BPK, sehingga kemungkinan sedikit kontraktor yang berani ikut tender," katanya.

Menurut Dek Mi, faktor geografis menjadi salah satu penyebab utama kenapa proyek jalan berhotmix di desa-desa sulit dimintai kontraktor. Misalnya tingkat kemiringan yang tajam dan lokasi yang jauh membuat kontraktor mengeluarkan banyak biaya tak terduga. Untuk itu, ia menyarankan agar analisa biaya pekerjaan ditingkatkan dan disesuaikan dengan faktor-faktor kesulitan yang dihadapi kontraktor. "Analisa biaya pekerjaan sebaiknya ditingkatkan agar pagu anggaran juga besar. Dengan begitu mungkin banyak kontraktor yang berminat," katanya.

Sebelumnya, dalam dalam sidang paripurna dengan agenda penyampaian Pengantar Nota Keuangan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang APBD Buleleng 2014 terungkap bahwa Pemkab menganggarkan dana Rp 90 miliar untuk proyek infrastruktur jalan di Buleleng. Peningkatan alokasi dana itu mencapai tujuh kali lipat dibandingkan anggaran tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan anggaran ini dilakukan karena kerusakan jalan di Buleleng memang cukup panjang. Anggaran sebesar Rp 90 miliar itu dipercaya mampu memperbaiki kerusakan jalan hingga 130 kilometer. (BP)

Pendukung Terbatas, Kontraktor Pesimis Proyek Jalan Hotmix Bisa Tuntas

Posted by Unknown No comments

Singaraja, Suara Buleleng - Sejumlah kontraktor di Kabupaten Buleleng pesimis program perbaikan jalan secara tuntas yang dicanangkan Bupati Putu Agus Suradnyana tahun 2014 bisa tuntas. Meski Pemkab menyiapkan dana Rp 90 miliar, namun faktor pendukung untuk menuntaskan program itu sangat terbatas.

Informasi dari sejumlah kontraktor di Buleleng, Minggu (10/11) kemarin, menyebutkan bahwa dana Rp 90 miliar yang dianggarkan untuk perbaikan jalan tahun 2014 dipastikan tak akan semuanya bisa terserap. Pasalnya, faktor pendukung untuk mengerjakan jalan berhotmix di Buleleng masih sangat terbatas. Pabrik AMP (Aspal Mixing Plant) di Buleleng jumlahnya hanya dua. Bahkan di Bali, pabrik AMP hanya ada sekitar lima unit.

Sementara pengerjaan jalan berhotmix bukan hanya dilakukan di Buleleng, melainkan juga di kabupaten lain di Bali. "Belum lagi proyek dari APBD untuk jalan nasional," kata seorang kontraktor. Selain itu, jumlah kontraktor di Buleleng yang mampu mengerjakan jalan hotmix nyaris tidak ada. Selain karena faktor jaminan, tenaga kerja dan pendukung hotmix, risiko kerugian dalam pengerjaan jalan berhotmix sangat besar.

Jika mengandalkan kontraktor dari luar Bali, faktor kegagalannya sangat besar. Terbukti sudah ada sejumlah kontraktor dari luar Bali yang di-black-list karena kabur dari pengerjaan proyek jalan di Buleleng tahun 2013 ini. "Kalau pun ada kontraktor dari luar Bali yang menang, mereka juga harus didukung AMP dari Bali, dan itu sangat sulit diperoleh," katanya.

Ketua Gapensi Buleleng Nyoman Suasana alias Jenggo yang dimintai pendapat juga menyatakan sangat pesimis proyek perbaikan jalan dengan anggaran Rp 90 miliar itu akan bisa berjalan dengan maksimal. Menurutnya, niat Bupati untuk membuat jalan berhotmix dalam waktu yang cepat hingga ke desa-desa memang bagus. Namun harus diperhitungkan juga faktor pendukungnya, seperti ketersediaan hotmix dan kemampuan kontraktor lokal.

Jenggo mengatakan, hampir tidak ada kontraktor lokal yang bisa ikut tender dalam pengerjaan aspal hotmix tersebut. Kalau pun ada kontraktor besar, menurutnya juga akan berpikir beberapa kali untuk mengambil pekerjaan jalan berhotmix tersebut karena faktor pendukung seperti SDM, peralatan, dan bahan material berupa hotmix yang sangat terbatas. "Untuk sementara sebaiknya jalan di sejumlah desa dibiarkan dulu memakai aspal goreng, agar kontraktor lokal bisa mendapatkan pekerjaan," katanya.

Sementara itu, kontraktor Made Suarnawa alias Dek Mi juga menyatakan pesimis proyek pengerjaan jalan berhotmix itu bisa tuntas sesuai harapan Bupati pada tahun 2014 mendatang. Bahkan ia memperkirakan tidak akan banyak kontraktor yang ikut tender dalam proyek jalan tersebut. "Risiko ruginya tinggi, bahkan rentan jadi temuan BPK, sehingga kemungkinan sedikit kontraktor yang berani ikut tender," katanya.

Menurut Dek Mi, faktor geografis menjadi salah satu penyebab utama kenapa proyek jalan berhotmix di desa-desa sulit dimintai kontraktor. Misalnya tingkat kemiringan yang tajam dan lokasi yang jauh membuat kontraktor mengeluarkan banyak biaya tak terduga. Untuk itu, ia menyarankan agar analisa biaya pekerjaan ditingkatkan dan disesuaikan dengan faktor-faktor kesulitan yang dihadapi kontraktor. "Analisa biaya pekerjaan sebaiknya ditingkatkan agar pagu anggaran juga besar. Dengan begitu mungkin banyak kontraktor yang berminat," katanya.

Sebelumnya, dalam dalam sidang paripurna dengan agenda penyampaian Pengantar Nota Keuangan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang APBD Buleleng 2014 terungkap bahwa Pemkab menganggarkan dana Rp 90 miliar untuk proyek infrastruktur jalan di Buleleng. Peningkatan alokasi dana itu mencapai tujuh kali lipat dibandingkan anggaran tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan anggaran ini dilakukan karena kerusakan jalan di Buleleng memang cukup panjang. Anggaran sebesar Rp 90 miliar itu dipercaya mampu memperbaiki kerusakan jalan hingga 130 kilometer. (BP)

Warga Buka Jalan Setelah Negosiasi Dengan Kapolda Bali

Gerokgak, Suara Buleleng - Warga masyarakat di Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, akhirnya bersedia membuka jalan yang sudah mereka duduki sehari semalam.

Pemblokiran jalan yang berlangsung sejak Kamis (7/11/2013) lalu, berakhir pada Sabtu (9/11/2013) pukul 05.00 pagi.

Warga membuka jalan raya setelah bernegosiasi dengan Kapolda Bali Irjen Pol Benny Mukolu. Negosiasi dilangsungkan di Balai Banjar Adat Sumber Batok.

Negosiasi dilakukan Kapolda bersama unsur Muspida Buleleng. Negosiasi dilakukan kepada Perbekel Sumberklampok Putu Artana dan tokoh masyarakat, tokoh adat, serta para sesepuh.

Kapolda Benny mengungkapkan, kedatangannya ke Sumberklampok hanya melakukan empat hal. Yakni memperkenalkan diri, mendengar aspirasi masyarakat, menyampaikannya kepada gubernur, serta meminta agar warga membuka blokade jalan.

"Masyarakat sudah dengan kesadarannya sendiri membuka jalan. Saya ucapkan terima kasih banyak kepada warga masyarakat di Sumberklampok," ucap Kapolda Benny.

Ia mengatakan, akan segera bertemu Gubernur Bali Made Mangku Pastika, untuk menyampaikan keinginan masyarakat.

"Warga sudah mamu membuka, timbal baliknya saya harus menyampaikan aspirasi mereka. Hari ini juga saya bertemu gubernur untuk menyalurkan aspirasi masyarakat," katanya. (BD)

Warga Buka Jalan Setelah Negosiasi Dengan Kapolda Bali

Posted by Unknown No comments

Gerokgak, Suara Buleleng - Warga masyarakat di Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, akhirnya bersedia membuka jalan yang sudah mereka duduki sehari semalam.

Pemblokiran jalan yang berlangsung sejak Kamis (7/11/2013) lalu, berakhir pada Sabtu (9/11/2013) pukul 05.00 pagi.

Warga membuka jalan raya setelah bernegosiasi dengan Kapolda Bali Irjen Pol Benny Mukolu. Negosiasi dilangsungkan di Balai Banjar Adat Sumber Batok.

Negosiasi dilakukan Kapolda bersama unsur Muspida Buleleng. Negosiasi dilakukan kepada Perbekel Sumberklampok Putu Artana dan tokoh masyarakat, tokoh adat, serta para sesepuh.

Kapolda Benny mengungkapkan, kedatangannya ke Sumberklampok hanya melakukan empat hal. Yakni memperkenalkan diri, mendengar aspirasi masyarakat, menyampaikannya kepada gubernur, serta meminta agar warga membuka blokade jalan.

"Masyarakat sudah dengan kesadarannya sendiri membuka jalan. Saya ucapkan terima kasih banyak kepada warga masyarakat di Sumberklampok," ucap Kapolda Benny.

Ia mengatakan, akan segera bertemu Gubernur Bali Made Mangku Pastika, untuk menyampaikan keinginan masyarakat.

"Warga sudah mamu membuka, timbal baliknya saya harus menyampaikan aspirasi mereka. Hari ini juga saya bertemu gubernur untuk menyalurkan aspirasi masyarakat," katanya. (BD)

Bersaing dengan Warga, Gubernur Pastika Diduga Arahkan HPL untuk Investor


Singaraja, Suara Buleleng - Perjuangan warga Desa Sumberkelampok Kecamatan Gerokgak untuk mendapatkan sertifikat hak milik atas tanah yang mereka tempati itu sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 1970-an. Namun secara resmi, mereka mulai melakukan berbagai aksi penyampaian aspirasi sejak 7 November 1991 atau sejak 22 tahun lalu.

Aksi doa bersama yang berbuntut pada pemblokiran Jalan Raya Singaraja-Gilimanuk yang mereka lakukan pada Kamis (7/11) itu sebenarnya untuk memperingati 22 tahun perjuangan mereka. Dengan sengaja mereka melakukan doa bersama di palinggih di Balai Banjar Sumber Batok, karena 22 tahun lalu, aksi pertama juga dilakukan di palinggih itu.

''Sebenarnya, perjuangan untuk mendapatkan tanah itu sudah dilakukan sejak saya belum lahir, namun awal perjuangan secara resmi dilakukan sejak 7 November 1991 di pura ini,'' kata Perbekel Sumberkelampok, Putu Artana, Sabtu (9/11) kemarin.

Setelah selama 22 tahun berjuang, ternyata warga tak mendapatkan hasil yang memuaskan. Hingga kini, semua tanah di Desa Sumberkelampok tak ada sertifikatnya. Bukan hanya tanah yang ditempati warga sejak puluhan tahun lalu, bahkan kantor desa, sekolah dan fasisitas pemerintah di Sumberkelampok juga tak memiliki sertifikat. Padahal, Hak Guna Usaha (HGU) atas tanah tersebut yang dimiliki dua perusahaaan yakni PT Margarana dan PT Dharma Jati, sudah habis masa berlakunya. Tanah itu bahkan seperti tak ada yang memedulikan sehingga sangat tepat disebut tanah telantar.

Luas tanah yang dimohon itu sekitar 600 hektar berlokasi di Sumberkelampok. Terdiri dari eks HGU PT Margarana unit II seluas 267 hektar dan Unit III seluas 151 hektar, serta HGU eks Dharma Jati seluas 230 hektar.

Meski tak ada yang memedulikan, namun warga tetap tak mendapatkan hak untuk menjadi pemilik sah tanah tersebut. Bahkan belakangan, warga kaget ketika mendapat penjelasan dari Pemprov Bali bahwa tanah tersebut merupakan milik Pemprov Bali. Lebih kaget lagi, Pemprov Bali ternyata ikut bersaing dengan warga untuk memohon Hak Pengelolaan Lahan (HPL) atas tanah itu. ''Seharusnya, Gubernur memberi dukungan terhadap permohonan warga, bukan malah ikut memohon HPL,'' kata Perbekel Artana.

Perbekel Artana mengatakan pihaknya tidak mengetahui maksud Pemprov Bali ikut memohon HPL, apakah akan dikolola sendiri atau akan disewakan kepada investor atau pihak ketiga. Namun, dia menduga jika investor yang memohon biasanya dipenuhi. Sementara jika rakyat yang memohon, sangat susah, ujarnya.

Menurutnya, jika Pemprov Bali sudah mendapatkan HPL atas tanah itu, maka kemudian arahnya akan ada Hak Guna Bangunan (HGB) dan HGU yang mengarah pada penguasaan investor atau pihak ketiga. ''Mudah-mudahan HPL dimohon untuk diberikan kepada rakyat Sumberkelampok, bukan kepada investor,'' kata Mulyadi Putra. (BP)

Bersaing dengan Warga, Gubernur Pastika Diduga Arahkan HPL untuk Investor

Posted by Unknown 1 comment


Singaraja, Suara Buleleng - Perjuangan warga Desa Sumberkelampok Kecamatan Gerokgak untuk mendapatkan sertifikat hak milik atas tanah yang mereka tempati itu sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 1970-an. Namun secara resmi, mereka mulai melakukan berbagai aksi penyampaian aspirasi sejak 7 November 1991 atau sejak 22 tahun lalu.

Aksi doa bersama yang berbuntut pada pemblokiran Jalan Raya Singaraja-Gilimanuk yang mereka lakukan pada Kamis (7/11) itu sebenarnya untuk memperingati 22 tahun perjuangan mereka. Dengan sengaja mereka melakukan doa bersama di palinggih di Balai Banjar Sumber Batok, karena 22 tahun lalu, aksi pertama juga dilakukan di palinggih itu.

''Sebenarnya, perjuangan untuk mendapatkan tanah itu sudah dilakukan sejak saya belum lahir, namun awal perjuangan secara resmi dilakukan sejak 7 November 1991 di pura ini,'' kata Perbekel Sumberkelampok, Putu Artana, Sabtu (9/11) kemarin.

Setelah selama 22 tahun berjuang, ternyata warga tak mendapatkan hasil yang memuaskan. Hingga kini, semua tanah di Desa Sumberkelampok tak ada sertifikatnya. Bukan hanya tanah yang ditempati warga sejak puluhan tahun lalu, bahkan kantor desa, sekolah dan fasisitas pemerintah di Sumberkelampok juga tak memiliki sertifikat. Padahal, Hak Guna Usaha (HGU) atas tanah tersebut yang dimiliki dua perusahaaan yakni PT Margarana dan PT Dharma Jati, sudah habis masa berlakunya. Tanah itu bahkan seperti tak ada yang memedulikan sehingga sangat tepat disebut tanah telantar.

Luas tanah yang dimohon itu sekitar 600 hektar berlokasi di Sumberkelampok. Terdiri dari eks HGU PT Margarana unit II seluas 267 hektar dan Unit III seluas 151 hektar, serta HGU eks Dharma Jati seluas 230 hektar.

Meski tak ada yang memedulikan, namun warga tetap tak mendapatkan hak untuk menjadi pemilik sah tanah tersebut. Bahkan belakangan, warga kaget ketika mendapat penjelasan dari Pemprov Bali bahwa tanah tersebut merupakan milik Pemprov Bali. Lebih kaget lagi, Pemprov Bali ternyata ikut bersaing dengan warga untuk memohon Hak Pengelolaan Lahan (HPL) atas tanah itu. ''Seharusnya, Gubernur memberi dukungan terhadap permohonan warga, bukan malah ikut memohon HPL,'' kata Perbekel Artana.

Perbekel Artana mengatakan pihaknya tidak mengetahui maksud Pemprov Bali ikut memohon HPL, apakah akan dikolola sendiri atau akan disewakan kepada investor atau pihak ketiga. Namun, dia menduga jika investor yang memohon biasanya dipenuhi. Sementara jika rakyat yang memohon, sangat susah, ujarnya.

Menurutnya, jika Pemprov Bali sudah mendapatkan HPL atas tanah itu, maka kemudian arahnya akan ada Hak Guna Bangunan (HGB) dan HGU yang mengarah pada penguasaan investor atau pihak ketiga. ''Mudah-mudahan HPL dimohon untuk diberikan kepada rakyat Sumberkelampok, bukan kepada investor,'' kata Mulyadi Putra. (BP)

Spionase Kanguru di Tanah Garuda


Suara Buleleng – “Buka rahasia mereka, lindungi rahasia kita (reveal their secrets, protect our own)”. Itulah semboyan Badan Intelijen Australia (Defence Signals Directorate) yang tahun 2013 ini berganti nama menjadi Australian Signals Directorate. Dengan moto itu, agen-agen DSD menjejakkan kaki di Bali ketika Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2007.

Mereka membawa tugas khusus, mengumpulkan nomor-nomor telepon para pejabat pertahanan dan keamanan di Indonesia. Dalam misinya itu, DSD bekerja bahu-membahu dengan badan keamanan nasional Amerika Serikat (National Security Agency) untuk memperoleh informasi yang menjadi target mereka. Semua itu diungkapkan Edward Snowden mantan kontraktor NSA yang kerap membocorkan rahasia intelijen AS dalam dokumen yang ia bocorkan dan dilansir harian Inggris The Guardian, 2 November 2013.

DSD bahkan disebut memasukkan ahli Bahasa Indonesia ke dalam timnya untuk memonitor dan menyeleksi informasi dari komunikasi yang berhasil mereka dapatkan. “Tujuan dari upaya (spionase) ini adalah untuk mengumpulkan pemahaman yang kuat tentang struktur jaringan yang diperlukan dalam keadaan darurat,” kata dokumen Snowden itu.

Sayangnya misi Australia itu pada akhirnya dianggap gagal karena satu-satunya nomor telepon pejabat yang berhasil mereka ketahui adalah milik Kepala Kepolisian Daerah Bali.

Namun, gagal di Bali, bukan berarti Australia tak mendapat apa-apa. Upaya penyadapan atau pengumpulan informasi bukan hanya dilakukan sekali itu.

Harian Australia The Sydney Morning Herald melaporkan Negeri Kanguru secara intensif dan sistematis melakukan aksi mata-mata dan membangun jejaring spionase mereka di Tanah Garuda ini melalui kantor kedutaan besar mereka di Jakarta. Media Australia lainnya, Fairfax, menyatakan pos-pos diplomatik Australia yang tersebar di Asia mempunyai fasilitas untuk mencegat lalu-lintas data dan panggilan telepon dari pejabat-pejabat penting di negara-negara di kawasan ini.

Aktivitas pengintaian itu dilakukan tanpa sepengetahuan mayoritas diplomat Australia yang berkantor di Kedutaan Australia. Data-data intelijen dikumpulkan DSD melalui kedutaan-kedutaan Australia di Jakarta, Kuala Lumpur, Bangkok, Hanoi, Beijing, Dili, dan Port Moresby. Dengan demikian negara-negara yang menjadi sasaran aksi spionase Australia adalah Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, China, Timor Leste, dan Papua Nugini.

Laporan mengenai aksi mata-mata Australia itu merupakan bagian dari dokumen yang dibocorkan Snowden dan dipublikasikan oleh harian Jerman, Der Spiegel. Dokumen itu menyoroti kemitraan spionase “Lima Mata” yang antara lain mencakup Inggris, Kanada, dan Australia. Disebutkan bahwa fasilitas penyadapan mereka seperti antena, kerap tersembunyi dalam fitur arsitektur palsu atau atap gudang pemeliharaan di berbagai kantor kedutaan.

Seorang mantan perwira di DSD menyatakan Kedutaan Besar Australia di Jakarta menjadi pemain kunci dalam mengumpulkan informasi. Australia menyasar data politik, ekonomi, dan intelijen melalui kedutaannya yang berlokasi di kawasan sibuk Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Selain di Jakarta, Konsulat Jenderal Australia di Denpasar, Bali, juga disebut digunakan untuk mengumpulkan data-data intelijen.

Jakarta menjadi pusat aksi spionase Australia di Asia karena dua faktor. Pertama, pertumbuhan jaringan telepon seluler yang pesat di Indonesia dan Jakarta khususnya. Kedua, elite politik di Jakarta disebut amat cerewet. “Jaringan seluler merupakan anugerah besar, dan elite Jakarta adalah kelompok yang amat suka bicara. Mereka bahkan tetap mengoceh meski merasa agen intelijen Indonesia sendiri mendengarkan (menyadap, red) mereka,” kata mantan perwira DSD itu seperti dikutip International Business Times Australia (baca juga bagian 3: Memburu Finenko di Jakarta).

Sejumlah data intelijen yang dicari Australia di Indonesia antara lain terkait terorisme dan penyelundupan manusia. Aksi terorisme kerap terjadi di Indonesia, sedangkan penyelundupan manusia menyangkut ribuan imigran gelap yang selalu menempuh jalur laut melalui Indonesia untuk mencari suaka di Australia. Parahnya, cara masuk ilegal via Indonesia ini amat berbahaya sehingga ratusan imigran seringkali tewas tenggelam saat menyeberang dengan perahu ke perairan Australia.

Kemarahan Jakarta

Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono melalui juru bicaranya Julian Aldrin Pasha, Jumat 8 November 2013, menyatakan tak dapat menerima adanya aksi penyadapan Australia terhadap Indonesia. “Selama ini hubungan bilateral kami selalu kondusif, baik, dan saling percaya. Kalau benar ada tindakan (penyadapan) seperti itu, kami sangat tak bisa menerimanya. Pemerintah mengecam hal ini. Sikap kami tegas,” kata Julian.

Indonesia telah memanggil Duta Besar Australia di Jakarta, Greg Moriarty, untuk memberikan penjelasan. Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa pun mengancam akan mengevaluasi kerjasama di bidang informasi dan intelijen dengan Australia. “Kami harus mengkaji ulang bagaimana ke depannya kerjasama dengan negara-negara yang tidak bisa memberikan konfirmasi apakah aksi penyadapan seperti ini benar dilakukan (atau tidak),” kata Marty.

Padahal Indonesia dan Australia selama ini menjalin kerjasama erat di bidang penangkalan aksi teror dan penyelundupan manusia. “Kalau mereka (Australia) mengumpulkan informasi di luar forum resmi, lalu apa manfaat kerangka yang resmi itu? Hal ini perlu dipikirkan masak-masak. Indonesia tidak terima diperlakukan seperti ini,” ujar Marty.

Pernyataan Marty itu mencerminkan kekesalan Indonesia yang tidak mendapat klarifikasi memuaskan. Isu penyadapan ini telah ditanyakan Indonesia ke perwakilan negara terkait dalam berbagai kesempatan. “Tapi jawaban mereka tetap sama, bahwa mereka tidak bisa mengkonfirmasi atau menyangkal pemberitaan tersebut,” kata Marty.

Indonesia menuntut komitmen Australia dan AS untuk tak lagi melakukan aksi spionase. “Kami perlu tegaskan, tidak boleh ada tindakan yang mengingkari atau tidak selaras dengan semangat persahabatan antar negara. Enough is enough. Setiap negara tidak sepatutnya melakukan aksi itu,” ujar Marty. Apalagi ongkosnya akan jauh lebih mahal jika aktivitas spionase tersebut terbongkar, yakni potensi kerusakan hubungan bilateral kedua negara karena hilangnya rasa saling percaya (lihat Infografik: Kala Aksi Intelejen Asing Terbongkar).

Marty pun menyindir Australia dan AS sekaligus. “Jika Australia sendiri yang menjadi subyek aktivitas (mata-mata) itu, menurut mereka itu tindakan bersahabat atau tidak? Kami tidak bisa menerima aksi spionase Australia atas perintah Amerika Serikat,” ujar mantan Duta Besar RI untuk PBB itu.

Hal yang saat ini penting dilakukan Indonesia, kata Marty, adalah meningkatkan kewaspadaan dan kapasitas untuk meminimalkan penyadapan. Dalam rangka itu pula Indonesia bergabung dengan Jerman dan Brasil dalam mensponsori resolusi anti spionase yang diajukan ke Sidang Umum PBB. Rancangan resolusi itu meminta dihentikannya aksi spionase Internet dan pelanggaran privasi. Indonesia berharap, melalui resolusi itu Australia dan AS tak lagi memata-matai Indonesia dan puluhan negara lain.

Canberra bungkam

Pernyataan Perdana Menteri Australia Tony Abbott sama sekali tak dapat menjernihkan isu penyadapan ini. Ia hanya mengatakan badan dan agen intelijen negaranya selalu bertindak dalam koridor hukum. “Setiap badan pemerintah Australia bertugas sesuai aturan yang berlaku,” kata dia.

Dubes Australia untuk RI, Greg Moriarty, juga tak mau berkomentar soal pemanggilannya oleh Kemlu RI terkait aksi spionase Australia. Juru Bicara Moriarty, Ray Marcello, dalam surat elektroniknya menyatakan pihaknya terus mengikuti perkembangan pemberitaan di Indonesia.

Australia pun mahfum dengan ancaman Marty Natalegawa untuk memutuskan kerjasama dengan Australia di bidang penangkalan aksi teror dan penyelundupan manusia. Marcello mengatakan, Australia sangat menghargai hubungan kemitraan yang dekat dengan Indonesia. Kerjasama bilateral yang telah dibangun sejak lama itu dianggap Australia sangat menguntungkan kedua negara.

“Kami terus menantikan kerjasama dengan Indonesia di beragam bidang seperti penanggulangan aksi terorisme dan penyelundupan manusia,” kata Marcello.

Menanggapi kemarahan Indonesia, Australia pun mengutus menteri pertahanannya, David Johnston, untuk terbang ke Jakarta, Kamis 7 November 2013. Namun setelah menggelar pertemuan dengan Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro, Jumat 8 November 2013, Johnston tak bersedia memberikan keterangan kepada media. Ia langsung kembali ke Australia.

Hasil pertemuan itu jauh dari memuaskan. Menurut Purnomo, dia dan Johnston menyerahkan isu penyadapan tersebut kepada kementerian luar negeri kedua negara karena isu penyadapan terkait hubungan diplomatik. “Itu adalah isu makro yang sedang dibicarakan pada level politik luar negeri antara Menlu Australia Julie Bishop dengan Menlu RI Marty Natalegawa,” kata Purnomo.

Bishop yang berada di Indonesia terkait agenda Bali Democracy Forum VI pada 7-8 November 2013, membantah hubungan bilateral Australia dengan Indonesia rusak karena isu penyadapan. “Saya tidak terima apabila ada pernyataan yang menyebut hubungan kedua negara retak,” kata dia. Bishop justru mengatakan telah melakukan diskusi yang bermanfaat dengan beberapa menteri Indonesia terkait masalah penanggulangan aksi teror dan penyelundupan manusia.

Sementara itu pakar keamanan Australia dari Australian National University, Profesor Michael Wesley, mengatakan Indonesia akan rugi bila memutus hubungan diplomatik dengan Australia. Wesley tak yakin Menlu RI Marty Natalegawa bersungguh-sungguh dengan ancamannya untuk menghentikan kerjasama dengan Australia.

Wesley berpendapat Marty hanya menggertak pemerintahan baru Australia yang masih berjalan dua bulan. Dikutip Sydney Morning Herald, dia mengatakan, “Marty Natalegawa adalah diplomat yang amat berpengalaman. Dia tahu pemerintahan di Canberra masih baru. Di sana ada perdana menteri dan menteri luar negeri yang tak berpengalaman.” (VIVA)

Baca juga : "Kala Aksi Intelejen Asing Terbongkar"

Spionase Kanguru di Tanah Garuda

Posted by Unknown No comments


Suara Buleleng – “Buka rahasia mereka, lindungi rahasia kita (reveal their secrets, protect our own)”. Itulah semboyan Badan Intelijen Australia (Defence Signals Directorate) yang tahun 2013 ini berganti nama menjadi Australian Signals Directorate. Dengan moto itu, agen-agen DSD menjejakkan kaki di Bali ketika Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2007.

Mereka membawa tugas khusus, mengumpulkan nomor-nomor telepon para pejabat pertahanan dan keamanan di Indonesia. Dalam misinya itu, DSD bekerja bahu-membahu dengan badan keamanan nasional Amerika Serikat (National Security Agency) untuk memperoleh informasi yang menjadi target mereka. Semua itu diungkapkan Edward Snowden mantan kontraktor NSA yang kerap membocorkan rahasia intelijen AS dalam dokumen yang ia bocorkan dan dilansir harian Inggris The Guardian, 2 November 2013.

DSD bahkan disebut memasukkan ahli Bahasa Indonesia ke dalam timnya untuk memonitor dan menyeleksi informasi dari komunikasi yang berhasil mereka dapatkan. “Tujuan dari upaya (spionase) ini adalah untuk mengumpulkan pemahaman yang kuat tentang struktur jaringan yang diperlukan dalam keadaan darurat,” kata dokumen Snowden itu.

Sayangnya misi Australia itu pada akhirnya dianggap gagal karena satu-satunya nomor telepon pejabat yang berhasil mereka ketahui adalah milik Kepala Kepolisian Daerah Bali.

Namun, gagal di Bali, bukan berarti Australia tak mendapat apa-apa. Upaya penyadapan atau pengumpulan informasi bukan hanya dilakukan sekali itu.

Harian Australia The Sydney Morning Herald melaporkan Negeri Kanguru secara intensif dan sistematis melakukan aksi mata-mata dan membangun jejaring spionase mereka di Tanah Garuda ini melalui kantor kedutaan besar mereka di Jakarta. Media Australia lainnya, Fairfax, menyatakan pos-pos diplomatik Australia yang tersebar di Asia mempunyai fasilitas untuk mencegat lalu-lintas data dan panggilan telepon dari pejabat-pejabat penting di negara-negara di kawasan ini.

Aktivitas pengintaian itu dilakukan tanpa sepengetahuan mayoritas diplomat Australia yang berkantor di Kedutaan Australia. Data-data intelijen dikumpulkan DSD melalui kedutaan-kedutaan Australia di Jakarta, Kuala Lumpur, Bangkok, Hanoi, Beijing, Dili, dan Port Moresby. Dengan demikian negara-negara yang menjadi sasaran aksi spionase Australia adalah Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, China, Timor Leste, dan Papua Nugini.

Laporan mengenai aksi mata-mata Australia itu merupakan bagian dari dokumen yang dibocorkan Snowden dan dipublikasikan oleh harian Jerman, Der Spiegel. Dokumen itu menyoroti kemitraan spionase “Lima Mata” yang antara lain mencakup Inggris, Kanada, dan Australia. Disebutkan bahwa fasilitas penyadapan mereka seperti antena, kerap tersembunyi dalam fitur arsitektur palsu atau atap gudang pemeliharaan di berbagai kantor kedutaan.

Seorang mantan perwira di DSD menyatakan Kedutaan Besar Australia di Jakarta menjadi pemain kunci dalam mengumpulkan informasi. Australia menyasar data politik, ekonomi, dan intelijen melalui kedutaannya yang berlokasi di kawasan sibuk Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Selain di Jakarta, Konsulat Jenderal Australia di Denpasar, Bali, juga disebut digunakan untuk mengumpulkan data-data intelijen.

Jakarta menjadi pusat aksi spionase Australia di Asia karena dua faktor. Pertama, pertumbuhan jaringan telepon seluler yang pesat di Indonesia dan Jakarta khususnya. Kedua, elite politik di Jakarta disebut amat cerewet. “Jaringan seluler merupakan anugerah besar, dan elite Jakarta adalah kelompok yang amat suka bicara. Mereka bahkan tetap mengoceh meski merasa agen intelijen Indonesia sendiri mendengarkan (menyadap, red) mereka,” kata mantan perwira DSD itu seperti dikutip International Business Times Australia (baca juga bagian 3: Memburu Finenko di Jakarta).

Sejumlah data intelijen yang dicari Australia di Indonesia antara lain terkait terorisme dan penyelundupan manusia. Aksi terorisme kerap terjadi di Indonesia, sedangkan penyelundupan manusia menyangkut ribuan imigran gelap yang selalu menempuh jalur laut melalui Indonesia untuk mencari suaka di Australia. Parahnya, cara masuk ilegal via Indonesia ini amat berbahaya sehingga ratusan imigran seringkali tewas tenggelam saat menyeberang dengan perahu ke perairan Australia.

Kemarahan Jakarta

Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono melalui juru bicaranya Julian Aldrin Pasha, Jumat 8 November 2013, menyatakan tak dapat menerima adanya aksi penyadapan Australia terhadap Indonesia. “Selama ini hubungan bilateral kami selalu kondusif, baik, dan saling percaya. Kalau benar ada tindakan (penyadapan) seperti itu, kami sangat tak bisa menerimanya. Pemerintah mengecam hal ini. Sikap kami tegas,” kata Julian.

Indonesia telah memanggil Duta Besar Australia di Jakarta, Greg Moriarty, untuk memberikan penjelasan. Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa pun mengancam akan mengevaluasi kerjasama di bidang informasi dan intelijen dengan Australia. “Kami harus mengkaji ulang bagaimana ke depannya kerjasama dengan negara-negara yang tidak bisa memberikan konfirmasi apakah aksi penyadapan seperti ini benar dilakukan (atau tidak),” kata Marty.

Padahal Indonesia dan Australia selama ini menjalin kerjasama erat di bidang penangkalan aksi teror dan penyelundupan manusia. “Kalau mereka (Australia) mengumpulkan informasi di luar forum resmi, lalu apa manfaat kerangka yang resmi itu? Hal ini perlu dipikirkan masak-masak. Indonesia tidak terima diperlakukan seperti ini,” ujar Marty.

Pernyataan Marty itu mencerminkan kekesalan Indonesia yang tidak mendapat klarifikasi memuaskan. Isu penyadapan ini telah ditanyakan Indonesia ke perwakilan negara terkait dalam berbagai kesempatan. “Tapi jawaban mereka tetap sama, bahwa mereka tidak bisa mengkonfirmasi atau menyangkal pemberitaan tersebut,” kata Marty.

Indonesia menuntut komitmen Australia dan AS untuk tak lagi melakukan aksi spionase. “Kami perlu tegaskan, tidak boleh ada tindakan yang mengingkari atau tidak selaras dengan semangat persahabatan antar negara. Enough is enough. Setiap negara tidak sepatutnya melakukan aksi itu,” ujar Marty. Apalagi ongkosnya akan jauh lebih mahal jika aktivitas spionase tersebut terbongkar, yakni potensi kerusakan hubungan bilateral kedua negara karena hilangnya rasa saling percaya (lihat Infografik: Kala Aksi Intelejen Asing Terbongkar).

Marty pun menyindir Australia dan AS sekaligus. “Jika Australia sendiri yang menjadi subyek aktivitas (mata-mata) itu, menurut mereka itu tindakan bersahabat atau tidak? Kami tidak bisa menerima aksi spionase Australia atas perintah Amerika Serikat,” ujar mantan Duta Besar RI untuk PBB itu.

Hal yang saat ini penting dilakukan Indonesia, kata Marty, adalah meningkatkan kewaspadaan dan kapasitas untuk meminimalkan penyadapan. Dalam rangka itu pula Indonesia bergabung dengan Jerman dan Brasil dalam mensponsori resolusi anti spionase yang diajukan ke Sidang Umum PBB. Rancangan resolusi itu meminta dihentikannya aksi spionase Internet dan pelanggaran privasi. Indonesia berharap, melalui resolusi itu Australia dan AS tak lagi memata-matai Indonesia dan puluhan negara lain.

Canberra bungkam

Pernyataan Perdana Menteri Australia Tony Abbott sama sekali tak dapat menjernihkan isu penyadapan ini. Ia hanya mengatakan badan dan agen intelijen negaranya selalu bertindak dalam koridor hukum. “Setiap badan pemerintah Australia bertugas sesuai aturan yang berlaku,” kata dia.

Dubes Australia untuk RI, Greg Moriarty, juga tak mau berkomentar soal pemanggilannya oleh Kemlu RI terkait aksi spionase Australia. Juru Bicara Moriarty, Ray Marcello, dalam surat elektroniknya menyatakan pihaknya terus mengikuti perkembangan pemberitaan di Indonesia.

Australia pun mahfum dengan ancaman Marty Natalegawa untuk memutuskan kerjasama dengan Australia di bidang penangkalan aksi teror dan penyelundupan manusia. Marcello mengatakan, Australia sangat menghargai hubungan kemitraan yang dekat dengan Indonesia. Kerjasama bilateral yang telah dibangun sejak lama itu dianggap Australia sangat menguntungkan kedua negara.

“Kami terus menantikan kerjasama dengan Indonesia di beragam bidang seperti penanggulangan aksi terorisme dan penyelundupan manusia,” kata Marcello.

Menanggapi kemarahan Indonesia, Australia pun mengutus menteri pertahanannya, David Johnston, untuk terbang ke Jakarta, Kamis 7 November 2013. Namun setelah menggelar pertemuan dengan Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro, Jumat 8 November 2013, Johnston tak bersedia memberikan keterangan kepada media. Ia langsung kembali ke Australia.

Hasil pertemuan itu jauh dari memuaskan. Menurut Purnomo, dia dan Johnston menyerahkan isu penyadapan tersebut kepada kementerian luar negeri kedua negara karena isu penyadapan terkait hubungan diplomatik. “Itu adalah isu makro yang sedang dibicarakan pada level politik luar negeri antara Menlu Australia Julie Bishop dengan Menlu RI Marty Natalegawa,” kata Purnomo.

Bishop yang berada di Indonesia terkait agenda Bali Democracy Forum VI pada 7-8 November 2013, membantah hubungan bilateral Australia dengan Indonesia rusak karena isu penyadapan. “Saya tidak terima apabila ada pernyataan yang menyebut hubungan kedua negara retak,” kata dia. Bishop justru mengatakan telah melakukan diskusi yang bermanfaat dengan beberapa menteri Indonesia terkait masalah penanggulangan aksi teror dan penyelundupan manusia.

Sementara itu pakar keamanan Australia dari Australian National University, Profesor Michael Wesley, mengatakan Indonesia akan rugi bila memutus hubungan diplomatik dengan Australia. Wesley tak yakin Menlu RI Marty Natalegawa bersungguh-sungguh dengan ancamannya untuk menghentikan kerjasama dengan Australia.

Wesley berpendapat Marty hanya menggertak pemerintahan baru Australia yang masih berjalan dua bulan. Dikutip Sydney Morning Herald, dia mengatakan, “Marty Natalegawa adalah diplomat yang amat berpengalaman. Dia tahu pemerintahan di Canberra masih baru. Di sana ada perdana menteri dan menteri luar negeri yang tak berpengalaman.” (VIVA)

Baca juga : "Kala Aksi Intelejen Asing Terbongkar"

Dampak Aksi Warga Sumberkelampok, Tiga Sekolah Terpaksa Diliburkan

Denpasar, Suara Buleleng - Gubernur Bali Made Mangku Pastika respons tuntutan warga Desa Sumberkelampok, Kecamatan Gerokgak, Buleleng yang perjuangkan sertifikat hak milik atas tanah garapannya. Gubernur Pastika undang perwakilan Desa Sumberkelampok untuk berdialog, Senin (11/11) depan. Namun, soal kabulkan tuntutan warga Sumberkelampok yang kini bergolak, masih menunggu persetujuan DPRD Bali.

Kepala Biro Humas Setda Provinsi Bali, Ketut Teneng, menyatakan Gubernur Pastika merespons tuntutan warga Sumberkelampok dengan mengundang perwakilan mereka hadir dalam pertemuan di Gedung Wiswa Sabha Utama Kantor Gubernuran, Niti Mandala Denpasar, Senin lusa. “Gubernur mengundang perwakilan-perwakilan warga Sumberkelampok untuk dialog membahas masalah tuntutan mereka, Senin depan,” ungkap Ketut Teneng di Denpasar, Jumat (8/11).

Terkait persoalan rekomendasi sertifikat hak milik yang dipertanyakan warga Sumberkelampok, menurut Teneng, harus ada persetujuan dari DPRD Bali. Sebab, ini menyangkut penyerahan aset pemerintah untuk dimanfaatkan masyarakat, sehingga harus ada persetujuan secara kelembagaan dari legislatif. “Penyerahan ini (sertifikat hak milik) tergantung DPRD Bali. Kalau Dewan setuju, maka prosesnya jalan,” katanya.

Menurut Ketut Teneng, warga Sumberkelampok juga pernah mengusulkan untuk sertifikasi hak milik atas tanah yang digarapnya kepada Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana menjelang Pilgub Bali 2013 lalu. Karenanya, dalam pertemuan dengan warga Sumberkelampok di Kantor Gubernuran nanti, Bupati Agus Suradnyana dan DPRD Buleleng juga harus dilibatkan membahas persoalan tersebut. Selain itu, unsur DPRD Bali juga akan diundang dalam pertemuan nanti.

Teneng memaparkan, sesuai bukti administrasi, aset Pemprov Bali berupa lahan lahan seluas 666,30 hektare terletak di tiga desa wilayah Kecamatan Gerokgak, Buleleng, yakni Desa Pemuteran, Desa Teluk Terima, dan Desa Sumberkelampok. Pada 1961, lahan tersebut dimohonkan pemanfaatannya oleh Yayasan Kebaktian Pejuang (YKP) dan selanjutnya membentuk NV Margarana yang bergerak di bidang perkebunan, dengan tiga Sertifikat Hak Guna Usaha (HGU). Khusus HGU nomor satu berakhir per 31 Desember 2005, sementara HGU nomor 2 dan nomor 3 berakhir pada 31 Desember 1993. Dengan berakhirnya HGU tersebut, kata Teneng, YKP sebagai pemohon telah mengembalikan lahan kepada Pemprov Bali dan kini tengah dalam proses penyertifikatan di Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Lahan yang berada di Desa Sumberkelampok belakangan juga dimohonkan warga setempat untuk memperoleh sertifikat hak milik. Untuk itu, Pemprov Bali mencoba memfasilitasinya melalui pertemuan di Kantor Gubernuran, Senin lusa. Menurut Teneng, meski merespons tuntutan warga Sumberkelampok, Gubernur Pastika sangat prihatin dan menyayangkan aksi pemblokiran jalan di Jalur Utama Singaraja-Gilimanuk oleh warga setempat, sejak Kamis (7/11) pagi.

Gubernur memaklumi bahwa warga melakukan hal tersebut untuk menyampaikan tuntutan proses pensertifikatan tanah negara yang mereka tempati. “Tapi, harus disampaikan dengan koridor yang tidak menganggu kenyamanan pihak lain, menganggu ketertiban lalulintas,” tegas birokrat asal Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng ini.

Sementara itu, hingga Jumat malam warga Desa Sumberklampok masih menduduki ruas jalan lintas kabupaten Jalur Utama Singaraja-Gilimanuk. Selain menutup badan jalan dengan batu, warga bahkan ramai-ramai makemit (tidur sambil siaga) di badan jalan. Upaya pendekatan yang dilakukan aparat kepolisian dibantu TNI dan pejabat Pemkab Buleleng, tidak membuahkan hasil. Tenda yang didirikan sejak Kamis pagi di tengah jalan masih dimanfaatkan warga untuk beriistirahat.

Warga terkonsentrasi di depan Bale Banjar Adat Sumber Batok, Desa Sumberkelampok. Untuk mengisi waktu, mereka menabuh gong, juga ditampilkan tarian sakral Tari Dewa Ayu, dimana perempuan yang kerasukan ngurek perut dengan senjata keris. Tarian asli dari Desa Adat Seraya, Karangasem ini ditampilkan untuk memberikan semangat sekaligus permohonan agar keinginan warga setempat terkabulkan.

Warga Sumberkima sudah bergolak sejak Kamis pagi pukul 10.00 Wita, memblokade jalan lintas kabupaten Buleleng-Jembrana dengan tebang pohon perindang dan jungkalkan Pos Kamling di tengah jalan. Mereka bertahan di jalan dan tidur menggunakan alas Koran, tikar pandan, dan terpal. Kaum ibu dan anak-anak juga ikut tidur di tengah jalan. Mereka diawasi pasukan Dalmas Polres Buleleng. Hal ini masih terus berlangsung hingga tadi malam. Polisi dan TNI tidak bisa berbuat banyak, karena anak-anak dan kaum ibu diikutkan dalam aksi di jalan tesebut.

“Kita masih persuasif dulu, tunggu perkembangan selanjutnya,” ungkap Kabag Ops Polres Buleleng, Kompol Riza Faizal, di lokasi blokade jal;an, Jumat kemarin.

Akibat pemblokiran jalan sejak Kamis pagi, terjadi antrean truk pengangkut kelapa, semen, pasir yang memanjang 15 kilometer Desa Sumberklampok (sisi timur) hingga Desa Pemuteran tepatnya di sebelah timur Pura Jayaprana (sisi barat). Sopir-sopir truk pilih membunuh waktu dengan cara bermain kartu, tidur-tiduran, namun ada pula yang memilih putar balik kandang melalui Pupuan (Tabanan) maupun Bedugul (Tabanan). Sedangkan untuk sepeda motor, masih bisa lewat melalui jalan pintas yang berliku di tegalan warga.

Namun, para pemotor dimintai uang sebesar Rp 20.000 per orang ketika melintasi jalan pintas tersebut. Pungutan Rp 20.000 didilakukan di setiap persimpangan jalan, sebagai ongkos penunjuk arah. Di setiap persimpangan, ada warga Sumberkelampok menungguinya. “Tadi lewat, tapi kok diminta uang Rp 20.000 di setiap persimpangan,” keluh seprang pemotor yang datang dari arah barat (Gilimanuk).

Bukan hanya pengendara motor yang kelimpungan dan pengemudi truk terperangkap di lokasi, gara-gara aksi blokade jalan oleh warga Sumberkelampok. Aktivitas belajar mengajar di tiga sekolah juga praktis diliburkan, yakni SDN 1 Sumberkelampok, SDN 2 Sumberkelampok, dan SMP Satu Atap Gerokgak. “Guru-gurunya itu kan dari Singaraja, Pak. Mereka nggak bisa ngajar. Tadi sempat anak-anak ke sekolah, tapi jam sepuluh sudah pulang lagi,” ujar salah seorang warga Jumat kemarin. (NB)

Dampak Aksi Warga Sumberkelampok, Tiga Sekolah Terpaksa Diliburkan

Posted by Unknown No comments

Denpasar, Suara Buleleng - Gubernur Bali Made Mangku Pastika respons tuntutan warga Desa Sumberkelampok, Kecamatan Gerokgak, Buleleng yang perjuangkan sertifikat hak milik atas tanah garapannya. Gubernur Pastika undang perwakilan Desa Sumberkelampok untuk berdialog, Senin (11/11) depan. Namun, soal kabulkan tuntutan warga Sumberkelampok yang kini bergolak, masih menunggu persetujuan DPRD Bali.

Kepala Biro Humas Setda Provinsi Bali, Ketut Teneng, menyatakan Gubernur Pastika merespons tuntutan warga Sumberkelampok dengan mengundang perwakilan mereka hadir dalam pertemuan di Gedung Wiswa Sabha Utama Kantor Gubernuran, Niti Mandala Denpasar, Senin lusa. “Gubernur mengundang perwakilan-perwakilan warga Sumberkelampok untuk dialog membahas masalah tuntutan mereka, Senin depan,” ungkap Ketut Teneng di Denpasar, Jumat (8/11).

Terkait persoalan rekomendasi sertifikat hak milik yang dipertanyakan warga Sumberkelampok, menurut Teneng, harus ada persetujuan dari DPRD Bali. Sebab, ini menyangkut penyerahan aset pemerintah untuk dimanfaatkan masyarakat, sehingga harus ada persetujuan secara kelembagaan dari legislatif. “Penyerahan ini (sertifikat hak milik) tergantung DPRD Bali. Kalau Dewan setuju, maka prosesnya jalan,” katanya.

Menurut Ketut Teneng, warga Sumberkelampok juga pernah mengusulkan untuk sertifikasi hak milik atas tanah yang digarapnya kepada Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana menjelang Pilgub Bali 2013 lalu. Karenanya, dalam pertemuan dengan warga Sumberkelampok di Kantor Gubernuran nanti, Bupati Agus Suradnyana dan DPRD Buleleng juga harus dilibatkan membahas persoalan tersebut. Selain itu, unsur DPRD Bali juga akan diundang dalam pertemuan nanti.

Teneng memaparkan, sesuai bukti administrasi, aset Pemprov Bali berupa lahan lahan seluas 666,30 hektare terletak di tiga desa wilayah Kecamatan Gerokgak, Buleleng, yakni Desa Pemuteran, Desa Teluk Terima, dan Desa Sumberkelampok. Pada 1961, lahan tersebut dimohonkan pemanfaatannya oleh Yayasan Kebaktian Pejuang (YKP) dan selanjutnya membentuk NV Margarana yang bergerak di bidang perkebunan, dengan tiga Sertifikat Hak Guna Usaha (HGU). Khusus HGU nomor satu berakhir per 31 Desember 2005, sementara HGU nomor 2 dan nomor 3 berakhir pada 31 Desember 1993. Dengan berakhirnya HGU tersebut, kata Teneng, YKP sebagai pemohon telah mengembalikan lahan kepada Pemprov Bali dan kini tengah dalam proses penyertifikatan di Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Lahan yang berada di Desa Sumberkelampok belakangan juga dimohonkan warga setempat untuk memperoleh sertifikat hak milik. Untuk itu, Pemprov Bali mencoba memfasilitasinya melalui pertemuan di Kantor Gubernuran, Senin lusa. Menurut Teneng, meski merespons tuntutan warga Sumberkelampok, Gubernur Pastika sangat prihatin dan menyayangkan aksi pemblokiran jalan di Jalur Utama Singaraja-Gilimanuk oleh warga setempat, sejak Kamis (7/11) pagi.

Gubernur memaklumi bahwa warga melakukan hal tersebut untuk menyampaikan tuntutan proses pensertifikatan tanah negara yang mereka tempati. “Tapi, harus disampaikan dengan koridor yang tidak menganggu kenyamanan pihak lain, menganggu ketertiban lalulintas,” tegas birokrat asal Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng ini.

Sementara itu, hingga Jumat malam warga Desa Sumberklampok masih menduduki ruas jalan lintas kabupaten Jalur Utama Singaraja-Gilimanuk. Selain menutup badan jalan dengan batu, warga bahkan ramai-ramai makemit (tidur sambil siaga) di badan jalan. Upaya pendekatan yang dilakukan aparat kepolisian dibantu TNI dan pejabat Pemkab Buleleng, tidak membuahkan hasil. Tenda yang didirikan sejak Kamis pagi di tengah jalan masih dimanfaatkan warga untuk beriistirahat.

Warga terkonsentrasi di depan Bale Banjar Adat Sumber Batok, Desa Sumberkelampok. Untuk mengisi waktu, mereka menabuh gong, juga ditampilkan tarian sakral Tari Dewa Ayu, dimana perempuan yang kerasukan ngurek perut dengan senjata keris. Tarian asli dari Desa Adat Seraya, Karangasem ini ditampilkan untuk memberikan semangat sekaligus permohonan agar keinginan warga setempat terkabulkan.

Warga Sumberkima sudah bergolak sejak Kamis pagi pukul 10.00 Wita, memblokade jalan lintas kabupaten Buleleng-Jembrana dengan tebang pohon perindang dan jungkalkan Pos Kamling di tengah jalan. Mereka bertahan di jalan dan tidur menggunakan alas Koran, tikar pandan, dan terpal. Kaum ibu dan anak-anak juga ikut tidur di tengah jalan. Mereka diawasi pasukan Dalmas Polres Buleleng. Hal ini masih terus berlangsung hingga tadi malam. Polisi dan TNI tidak bisa berbuat banyak, karena anak-anak dan kaum ibu diikutkan dalam aksi di jalan tesebut.

“Kita masih persuasif dulu, tunggu perkembangan selanjutnya,” ungkap Kabag Ops Polres Buleleng, Kompol Riza Faizal, di lokasi blokade jal;an, Jumat kemarin.

Akibat pemblokiran jalan sejak Kamis pagi, terjadi antrean truk pengangkut kelapa, semen, pasir yang memanjang 15 kilometer Desa Sumberklampok (sisi timur) hingga Desa Pemuteran tepatnya di sebelah timur Pura Jayaprana (sisi barat). Sopir-sopir truk pilih membunuh waktu dengan cara bermain kartu, tidur-tiduran, namun ada pula yang memilih putar balik kandang melalui Pupuan (Tabanan) maupun Bedugul (Tabanan). Sedangkan untuk sepeda motor, masih bisa lewat melalui jalan pintas yang berliku di tegalan warga.

Namun, para pemotor dimintai uang sebesar Rp 20.000 per orang ketika melintasi jalan pintas tersebut. Pungutan Rp 20.000 didilakukan di setiap persimpangan jalan, sebagai ongkos penunjuk arah. Di setiap persimpangan, ada warga Sumberkelampok menungguinya. “Tadi lewat, tapi kok diminta uang Rp 20.000 di setiap persimpangan,” keluh seprang pemotor yang datang dari arah barat (Gilimanuk).

Bukan hanya pengendara motor yang kelimpungan dan pengemudi truk terperangkap di lokasi, gara-gara aksi blokade jalan oleh warga Sumberkelampok. Aktivitas belajar mengajar di tiga sekolah juga praktis diliburkan, yakni SDN 1 Sumberkelampok, SDN 2 Sumberkelampok, dan SMP Satu Atap Gerokgak. “Guru-gurunya itu kan dari Singaraja, Pak. Mereka nggak bisa ngajar. Tadi sempat anak-anak ke sekolah, tapi jam sepuluh sudah pulang lagi,” ujar salah seorang warga Jumat kemarin. (NB)

Senin Depan, Gubernur Dijadwalkan Bertemu Perwakilan Masyarakat Sumberkelampok di Kantornya

Denpasar, Suara Buleleng - Gubernur Bali Made Mangku Pastika menyatakan keprihatinannya atas tindakan pemblokiran jalan jalur Singaraja-Gilimanuk oleh warga Sumberkelampok, Kabupaten Buleleng, yang menuntut rekomendasi gubernur untuk proses penyertifikatan tanah yang mereka tempati.

“Gubernur sangat prihatin atas tindakan masyarakat melakukan aksi pemblokiran jalur jalan Singaraja-Gilimanuk tersebut,” kata Kepala Biro Humas Pemprov Bali Ketut Teneng di Denpasar, Jumat (8/11).

Ia mengatakan tindakan warga tersebut harus juga disadari bahwa tindakan tersebut menganggu ketertiban, menghambat lalu lintas serta kenyamanan pemakai jalan.

“Terkait masalah tersebut, gubernur siap bertemu dengan perwakilan masyarakat Sumberkelampok yang dijadwalkan di Kantor Gubernur Bali pada Senin (11/11),” ujarnya.

Gubernur juga menegaskan bahwa mengacu peraturan perundang-undangan, pengalihan hak atas tanah provinsi harus mendapat surat rekomendasi DPRD. Jadi, idealnya, aspirasi juga ditujukan kepada dewan.

Untuk itu, pihaknya akan berupaya memfasilitasi dalam pertemuan pada Senin mendatang dengan mengundang jajaran DPRD Bali, DPRD Buleleng dan Bupati Buleleng.

Gubernur berharap pertemuan itu akan menghasilkan jalan keluar terbaik agar persoalan ini tak makin berlarut-larut.
Dalam kesempatan itu, Karo Humas Pemprov Bali Ketut Teneng menuturkan bahwa sesuai bukti administrasi, lahan seluas 666,30 hektare merupakan aset Pemprov Bali dan terletak di tiga desa yaitu Pemuteran, Sumberkelampok dan Telukterima.

Pada tahun 1961, lahan tersebut dimohonkan pemanfaatannya oleh Yayasan Kebaktian Pejuang (YKP) dan selanjutnya membentuk CV Margarana yang bergerak di bidang perkebunan, dengan tiga Sertifikat Hak Guna Usaha (HGU) yaitu HGU Nomor 1 berakhir 31 Desember 2005, sementara HGU nomor 2 dan 3 berakhir 31 Desember 1993.

Dengan berakhirnya HGU tersebut, YKP sebagai pemohon telah mengembalikan lahan tersebut kepada Pemprov Bali dan kini tengah dalam proses penyertifikatan di BPN.

Lahan yang berada di Desa Sumberkelampok belakangan juga dimohonkan warga untuk memperoleh sertifikat hak milik.

Untuk itu, Pemprov Bali mencoba memfasilitasi melalui pertemuan yang akan dilaksanakan pada hari Senin mendatang. Pertemuan tersebut nantinya diharapkan menghasilkan jalan keluar agar permasalahan ini tak berkepanjangan. (MB)

Senin Depan, Gubernur Dijadwalkan Bertemu Perwakilan Masyarakat Sumberkelampok di Kantornya

Posted by Unknown No comments

Denpasar, Suara Buleleng - Gubernur Bali Made Mangku Pastika menyatakan keprihatinannya atas tindakan pemblokiran jalan jalur Singaraja-Gilimanuk oleh warga Sumberkelampok, Kabupaten Buleleng, yang menuntut rekomendasi gubernur untuk proses penyertifikatan tanah yang mereka tempati.

“Gubernur sangat prihatin atas tindakan masyarakat melakukan aksi pemblokiran jalur jalan Singaraja-Gilimanuk tersebut,” kata Kepala Biro Humas Pemprov Bali Ketut Teneng di Denpasar, Jumat (8/11).

Ia mengatakan tindakan warga tersebut harus juga disadari bahwa tindakan tersebut menganggu ketertiban, menghambat lalu lintas serta kenyamanan pemakai jalan.

“Terkait masalah tersebut, gubernur siap bertemu dengan perwakilan masyarakat Sumberkelampok yang dijadwalkan di Kantor Gubernur Bali pada Senin (11/11),” ujarnya.

Gubernur juga menegaskan bahwa mengacu peraturan perundang-undangan, pengalihan hak atas tanah provinsi harus mendapat surat rekomendasi DPRD. Jadi, idealnya, aspirasi juga ditujukan kepada dewan.

Untuk itu, pihaknya akan berupaya memfasilitasi dalam pertemuan pada Senin mendatang dengan mengundang jajaran DPRD Bali, DPRD Buleleng dan Bupati Buleleng.

Gubernur berharap pertemuan itu akan menghasilkan jalan keluar terbaik agar persoalan ini tak makin berlarut-larut.
Dalam kesempatan itu, Karo Humas Pemprov Bali Ketut Teneng menuturkan bahwa sesuai bukti administrasi, lahan seluas 666,30 hektare merupakan aset Pemprov Bali dan terletak di tiga desa yaitu Pemuteran, Sumberkelampok dan Telukterima.

Pada tahun 1961, lahan tersebut dimohonkan pemanfaatannya oleh Yayasan Kebaktian Pejuang (YKP) dan selanjutnya membentuk CV Margarana yang bergerak di bidang perkebunan, dengan tiga Sertifikat Hak Guna Usaha (HGU) yaitu HGU Nomor 1 berakhir 31 Desember 2005, sementara HGU nomor 2 dan 3 berakhir 31 Desember 1993.

Dengan berakhirnya HGU tersebut, YKP sebagai pemohon telah mengembalikan lahan tersebut kepada Pemprov Bali dan kini tengah dalam proses penyertifikatan di BPN.

Lahan yang berada di Desa Sumberkelampok belakangan juga dimohonkan warga untuk memperoleh sertifikat hak milik.

Untuk itu, Pemprov Bali mencoba memfasilitasi melalui pertemuan yang akan dilaksanakan pada hari Senin mendatang. Pertemuan tersebut nantinya diharapkan menghasilkan jalan keluar agar permasalahan ini tak berkepanjangan. (MB)

Jalan Diblokir, Arus Lalin Gilimanuk - Singaraja Dialihkan


Jembrana, Suara Buleleng - Pasca pemblokiran jalan oleh warga Sumber Kelampok, Gerokgak, Buleleng, arus lalu lintas Gilimanuk-Singaraja di alihkan melalui jalur alternatif.  Untuk mengalihkan arus lalu lintas, aparat kepolisian Polsek kota dan Sat Lantas Polres Jembrana di siagakan di Pertigaan Cekik, Kelurahan Gilimanuk. Namun sopir truk justru enggan melewati jalur alternative dan memilih bertahan di Jalan.

Memasuki hari kedua pasca pemblokiran jalan, truk yang tertahan di jalur Gilimanuk-Singaraja bertambah banyak. Puluhan truk muatan sembako dan material bangunan tertahan mulai dari areal parkir Jembatan timbang, hingga di kanan kiri jalur Pantura pulau Bali, tepatnya pertigaan Cekik, Kelurahan Gilimanuk, Jembrana.

Aparat kepolisian Polsek Gilimanuk dan Sat Lantas Polres Jembrana, berusaha mengurai antrian kedaraan dengan mengalihkan arus lalu lintas ke jalur alternatif. “Untuk kendaraan besar kita parkir sementara di pertigaan Cekik, sedangkan untuk kendaraan sedang dan pribadi setra sepeda motor kita alihkan ke jalur lain. Mereka bisa melewati Pekutatan-Singaraja atau melalui Tabanan lewat Pupuan juga bisa.”jelas Kompol I Made Prihenjagat, Kapolsek Kawasan Laut Gilimanuk.

Sopir truk yang memilih bertahan mengaku terlalu beresiko melewati jalur alternative, selain jalannya kecil, medannya juga banyak tanjakan dan tikungan tajam. Selain itu biaya oprasional kendaraan terutama BBM juga bertambah empat kali lipat. “Kami tergantung bos kalau mau menambah uang BBM kami siap melewati jalur alternative. Hingga saat ini belum ada keputusan dari pemilik barang. Kami sebagai sopir tidak mau rugi karena biaya BBM bisa berkalilipat. Jika lewat lajur biasa kami hanya menghabiskan BBM 100 ribu, melalui jalur lain mengabiskan hingga 400 ribu itu untuk solar saja,”ungkap Made Merta salah seorang sopir yang masih bertahan di Cekik. (BD)

Jalan Diblokir, Arus Lalin Gilimanuk - Singaraja Dialihkan

Posted by Unknown No comments


Jembrana, Suara Buleleng - Pasca pemblokiran jalan oleh warga Sumber Kelampok, Gerokgak, Buleleng, arus lalu lintas Gilimanuk-Singaraja di alihkan melalui jalur alternatif.  Untuk mengalihkan arus lalu lintas, aparat kepolisian Polsek kota dan Sat Lantas Polres Jembrana di siagakan di Pertigaan Cekik, Kelurahan Gilimanuk. Namun sopir truk justru enggan melewati jalur alternative dan memilih bertahan di Jalan.

Memasuki hari kedua pasca pemblokiran jalan, truk yang tertahan di jalur Gilimanuk-Singaraja bertambah banyak. Puluhan truk muatan sembako dan material bangunan tertahan mulai dari areal parkir Jembatan timbang, hingga di kanan kiri jalur Pantura pulau Bali, tepatnya pertigaan Cekik, Kelurahan Gilimanuk, Jembrana.

Aparat kepolisian Polsek Gilimanuk dan Sat Lantas Polres Jembrana, berusaha mengurai antrian kedaraan dengan mengalihkan arus lalu lintas ke jalur alternatif. “Untuk kendaraan besar kita parkir sementara di pertigaan Cekik, sedangkan untuk kendaraan sedang dan pribadi setra sepeda motor kita alihkan ke jalur lain. Mereka bisa melewati Pekutatan-Singaraja atau melalui Tabanan lewat Pupuan juga bisa.”jelas Kompol I Made Prihenjagat, Kapolsek Kawasan Laut Gilimanuk.

Sopir truk yang memilih bertahan mengaku terlalu beresiko melewati jalur alternative, selain jalannya kecil, medannya juga banyak tanjakan dan tikungan tajam. Selain itu biaya oprasional kendaraan terutama BBM juga bertambah empat kali lipat. “Kami tergantung bos kalau mau menambah uang BBM kami siap melewati jalur alternative. Hingga saat ini belum ada keputusan dari pemilik barang. Kami sebagai sopir tidak mau rugi karena biaya BBM bisa berkalilipat. Jika lewat lajur biasa kami hanya menghabiskan BBM 100 ribu, melalui jalur lain mengabiskan hingga 400 ribu itu untuk solar saja,”ungkap Made Merta salah seorang sopir yang masih bertahan di Cekik. (BD)

Dampak Jalan Diblokir, Kendaraan Sembako Menumpuk di Cekik

Jembrana, Suara Buleleng - Aksi pembelokiran jalan oleh warga Sumberklampok, Grokgak, Kabupaten Buleleng, Bali, sejak Kamis (7/11) kemarin berlanjut hingga Jumat (8/11) ini. Akibatnya arus lalu lintas Gilimanuk-Singaraja menjadi lumpuh total.

Pantauan di Cekik, Jumat, nampak terjadi penumpukan kendaraan di pertigaan Cekik, Gilimanuk, Jembrana. Selain kendaran umum, juga nampak berjejer kendaraan besar mengangkut sembako seperti truk. Bahkan beberapa diantaranya sudah memarkir kendaraan sejak Kamis (7/11) kemarin.

Ditemui di lokasi, sejumlah sopir menyayangkan aksi tersebut. Mereka menilai aksi tersebut sangat merugikan banyak orang, selain pengguna jalan. Mereka juga mengaku mengalami kerugian hingga puluhan juta. “Jujur, saya rugi karena ada aksi ini. Semestinya muatan saya sudah turun. Tapi sampai sekarang saya baru sampai disini (Cekik)” ujar Fauzi (43) salah seorang sopir truk bermuatan sembako asal Banyuwangi, Jatim.

Demikian juga dengan Munawir (42), sopir truk bermuatan sembako asal Malang, Jawa Timur. Menurutnya ia parkir dipertigaan Cekik Jembrana sejak Kamis siang kemarin. “Seharusnya Kamis sore saya sudah bongkar muat. Perbekalan juga sudah menipis. Seharusnya Jumat sore ini saya sudah balik” ujarnya.

Hal yang sama juga dialami Komang Jati, asal Singaraja. Sopir angkutan umum jurusan Gilimanuk -Singaraja ini sangat menyayangkan aksi warga tersebut. Sebab selain merugikan orang banyak, juga sangat berdampak pada sopir angkutan umum seperti dirinya.

Sejumlah sopir juga menilai pemerintah dan aparat keamanan lemah dalam menangani aksi tersebut. Semestinya aparat keamanan dan pemerintah segera mencarikan solusi, sehingga tidak merugikan orang banyak.

Sementara itu, menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, jajaran Polsek Kawasan Laut Gilimanuk, dibantu aparat Polres Jembrana, melakukan penjagaan dan menugaskan belasan personilnya untuk melakukan pengaturan arus lalu lintas. Bahkan nampak Kapolsek Kawasan Laut Gilimanuk, Kompol Made Prihenjagat, tidak henti-hentinya memberikan arahan kepada sejumlah sopir kendaraan yang terjebak kemacetan untuk dapat bersabar.

Selain itu, pihaknya juga menyarankan agar para sopir menggunakan jalur alternanif melalui Kecamatan Pekutatan untuk menuju ke Singaraja. “Untuk kendaraan kecil kami arahkan melalui Pekutatan untuk menuju Singaraja, itu pun kalau mereka mau. Kalau tronton jelas tidak bisa” pungkasnya. (MB)

Dampak Jalan Diblokir, Kendaraan Sembako Menumpuk di Cekik

Posted by Unknown No comments

Jembrana, Suara Buleleng - Aksi pembelokiran jalan oleh warga Sumberklampok, Grokgak, Kabupaten Buleleng, Bali, sejak Kamis (7/11) kemarin berlanjut hingga Jumat (8/11) ini. Akibatnya arus lalu lintas Gilimanuk-Singaraja menjadi lumpuh total.

Pantauan di Cekik, Jumat, nampak terjadi penumpukan kendaraan di pertigaan Cekik, Gilimanuk, Jembrana. Selain kendaran umum, juga nampak berjejer kendaraan besar mengangkut sembako seperti truk. Bahkan beberapa diantaranya sudah memarkir kendaraan sejak Kamis (7/11) kemarin.

Ditemui di lokasi, sejumlah sopir menyayangkan aksi tersebut. Mereka menilai aksi tersebut sangat merugikan banyak orang, selain pengguna jalan. Mereka juga mengaku mengalami kerugian hingga puluhan juta. “Jujur, saya rugi karena ada aksi ini. Semestinya muatan saya sudah turun. Tapi sampai sekarang saya baru sampai disini (Cekik)” ujar Fauzi (43) salah seorang sopir truk bermuatan sembako asal Banyuwangi, Jatim.

Demikian juga dengan Munawir (42), sopir truk bermuatan sembako asal Malang, Jawa Timur. Menurutnya ia parkir dipertigaan Cekik Jembrana sejak Kamis siang kemarin. “Seharusnya Kamis sore saya sudah bongkar muat. Perbekalan juga sudah menipis. Seharusnya Jumat sore ini saya sudah balik” ujarnya.

Hal yang sama juga dialami Komang Jati, asal Singaraja. Sopir angkutan umum jurusan Gilimanuk -Singaraja ini sangat menyayangkan aksi warga tersebut. Sebab selain merugikan orang banyak, juga sangat berdampak pada sopir angkutan umum seperti dirinya.

Sejumlah sopir juga menilai pemerintah dan aparat keamanan lemah dalam menangani aksi tersebut. Semestinya aparat keamanan dan pemerintah segera mencarikan solusi, sehingga tidak merugikan orang banyak.

Sementara itu, menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, jajaran Polsek Kawasan Laut Gilimanuk, dibantu aparat Polres Jembrana, melakukan penjagaan dan menugaskan belasan personilnya untuk melakukan pengaturan arus lalu lintas. Bahkan nampak Kapolsek Kawasan Laut Gilimanuk, Kompol Made Prihenjagat, tidak henti-hentinya memberikan arahan kepada sejumlah sopir kendaraan yang terjebak kemacetan untuk dapat bersabar.

Selain itu, pihaknya juga menyarankan agar para sopir menggunakan jalur alternanif melalui Kecamatan Pekutatan untuk menuju ke Singaraja. “Untuk kendaraan kecil kami arahkan melalui Pekutatan untuk menuju Singaraja, itu pun kalau mereka mau. Kalau tronton jelas tidak bisa” pungkasnya. (MB)

Sopir Truk Gilimanuk-Singaraja Keluhkan Pemblokiran Jalan


Jembrana, Suara Buleleng - Aksi pemblokiran jalan oleh warga Sumber Kelampok, Gerokgak, Buleleng dikeluhkan para sopir Gilimanuk-Singaraja. Aksi tersebut mengganggu aktifitas pekerjaannya. Banyak sopir yang memarkir kendaraanya di pinggir jalan berjam-jam.

Aksi pemblokiran jalan oleh warga, berimbas terhadap kehidupan sopir angkutan umum dan truk. Akibatnya mereka tidak bisa melintas di jalur Gilimanuk-Singaraja. Sambil menunggu jalan dibuka, sopir memarkir kendaraanya di pinggir jalan.

“Kami sangat dirugikan dengan aksi ini. kami sudah menunggu dari jam 11, semestinya sudah balik dari singaraja jam segini(pukul 15,00 wita red) sudah dirumah dinegara.” keluh Sulaeman sopir truk dari Negara, Jembrana, Kamis (8/11/2013).

“Protes sih protes tapi jangan mengorbankan masyarakat banyak, kami juga butuh makan punya anak dan keluarga. kalau begini bagaimana kami bisa dapat setoran untuk makan,”ujar Komang Jati yang diiakan sopir lainnya.

Para sopir juga sangat menyayangkan aparat keamanan dan pemerintah tidak bisa bertindak tegas. “Semestinya aparat petugas dan pemerintah bisa memberikan rasa aman kepada kami rakyat kecil, kenapa penutupan jalan umum justru dibiarkan sehingga banyak warga yang dirugikan.” keluh Jati.

Bagi kendaraan barang ukuran sedang dan kecil, serta kendaraan pribadi masih bisa melalui jalur alternatif melewati Pekutatan-Pupuan, namun jalur tersebut tidak bisa di lalui kenderaan truk besar dan tronton sehinga sopir truk memilih memarkir kendaraannya di pinggir jalan. (BD)

Sopir Truk Gilimanuk-Singaraja Keluhkan Pemblokiran Jalan

Posted by Unknown No comments


Jembrana, Suara Buleleng - Aksi pemblokiran jalan oleh warga Sumber Kelampok, Gerokgak, Buleleng dikeluhkan para sopir Gilimanuk-Singaraja. Aksi tersebut mengganggu aktifitas pekerjaannya. Banyak sopir yang memarkir kendaraanya di pinggir jalan berjam-jam.

Aksi pemblokiran jalan oleh warga, berimbas terhadap kehidupan sopir angkutan umum dan truk. Akibatnya mereka tidak bisa melintas di jalur Gilimanuk-Singaraja. Sambil menunggu jalan dibuka, sopir memarkir kendaraanya di pinggir jalan.

“Kami sangat dirugikan dengan aksi ini. kami sudah menunggu dari jam 11, semestinya sudah balik dari singaraja jam segini(pukul 15,00 wita red) sudah dirumah dinegara.” keluh Sulaeman sopir truk dari Negara, Jembrana, Kamis (8/11/2013).

“Protes sih protes tapi jangan mengorbankan masyarakat banyak, kami juga butuh makan punya anak dan keluarga. kalau begini bagaimana kami bisa dapat setoran untuk makan,”ujar Komang Jati yang diiakan sopir lainnya.

Para sopir juga sangat menyayangkan aparat keamanan dan pemerintah tidak bisa bertindak tegas. “Semestinya aparat petugas dan pemerintah bisa memberikan rasa aman kepada kami rakyat kecil, kenapa penutupan jalan umum justru dibiarkan sehingga banyak warga yang dirugikan.” keluh Jati.

Bagi kendaraan barang ukuran sedang dan kecil, serta kendaraan pribadi masih bisa melalui jalur alternatif melewati Pekutatan-Pupuan, namun jalur tersebut tidak bisa di lalui kenderaan truk besar dan tronton sehinga sopir truk memilih memarkir kendaraannya di pinggir jalan. (BD)

Infrastruktur di Bali Utara Dinilai Belum Memadai

Denpasar, Suara Buleleng - Pembangunan infrastruktur di Bali belum seimbang antara Bali utara dan Bali selatan. Berbagai infrastruktur yang dibangun selama ini cenderung berada di Bali selatan. Praktisi pariwisata Bali Nyoman Kandia menjelaskan, penumpukan pembangunan di Bali selatan terutama terjadi pada infrastruktur hotel dan berbagai akomodasi wisata lainnya. Sementara di Bali utara dan timur seperti di Buleleng dan Karangasem masih belum merata. Belum lagi di Bali barat yakni di Jembrana. "Bali semua memiliki potensi dan semuanya indah baik yang ada di utara dan selatan. Ini perlu kebijakan pemerintah untuk mengarahkan pembangunan ke utara. Jangan hanya bertumpu di selatan," ujarnya di Denpasar, Minggu (3/11/2013).

Menurutnya, hal utama yang harus dibenahi di utara adalah infrastruktur publik. Di antaranya akses jalan, bandara. Jalan raya yang menghubungkan utara dan selatan harus segera dibenahi. Rencana pembangunan jalan yang menghubungkan Kuta-Soka-Seririt perlu segera diwujudkan sehingga akses jalan menuju Bali utara bisa lebih cepat. Sedangkan rencana pembangunan bandara yang akan dilakukan oleh pemerintah pusat diharapkan bisa selesai dalam beberapa tahun ke depannya.

Sementara itu Aliansi Masyarakat Pariwisata Bali mendorong Pemerintah Provinsi Bali untuk segera melakukan perbaikan infrastruktur untuk menunjang perkembangan pariwisata Bali. Mengingat Bali sangat memerlukan perbaikan infrastruktur agar pembangunan pariwisata di Bali bisa merata dan tidak timpang antara Bali Selatan dan Bali Utara. Ketua Aliansi Masyarakat Pariwisata Bali I Gusti Kade Sutawa menyampaikan jika infrastruktur terutama infrastruktur jalan menuju obyek wisata tidak diperbaiki maka pemerataan pariwisata sulit diwujudkan.

Belum lagi jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bali dan jumlah penduduk Bali terus mengalami peningkatan. “Karena kalau tidak dengan pertumbuhan pariwisata yang mencapai 10-15 persen, pertumbuhan penduduK yang hampir 4,5 persen di Bali ini, betul-betul Bali akan menjadi krodit dan macet di mana-mana kalau tidak diantisipasi. Demikian juga pemerataan pariwisata ini penting supaya tidak terjadi kesenjangan,” kata Sutawa. Ia juga mempertanyakan recana pembangunan jalan melingkar yang menghubungkan Bali Selatan-Barat dan Utara yang hingga kini belum terealisasi. Begitu juga pembangunan Bandar udara Bali Utara yang hingga kini masih menjadi wacana. (BD)

Infrastruktur di Bali Utara Dinilai Belum Memadai

Posted by Unknown No comments

Denpasar, Suara Buleleng - Pembangunan infrastruktur di Bali belum seimbang antara Bali utara dan Bali selatan. Berbagai infrastruktur yang dibangun selama ini cenderung berada di Bali selatan. Praktisi pariwisata Bali Nyoman Kandia menjelaskan, penumpukan pembangunan di Bali selatan terutama terjadi pada infrastruktur hotel dan berbagai akomodasi wisata lainnya. Sementara di Bali utara dan timur seperti di Buleleng dan Karangasem masih belum merata. Belum lagi di Bali barat yakni di Jembrana. "Bali semua memiliki potensi dan semuanya indah baik yang ada di utara dan selatan. Ini perlu kebijakan pemerintah untuk mengarahkan pembangunan ke utara. Jangan hanya bertumpu di selatan," ujarnya di Denpasar, Minggu (3/11/2013).

Menurutnya, hal utama yang harus dibenahi di utara adalah infrastruktur publik. Di antaranya akses jalan, bandara. Jalan raya yang menghubungkan utara dan selatan harus segera dibenahi. Rencana pembangunan jalan yang menghubungkan Kuta-Soka-Seririt perlu segera diwujudkan sehingga akses jalan menuju Bali utara bisa lebih cepat. Sedangkan rencana pembangunan bandara yang akan dilakukan oleh pemerintah pusat diharapkan bisa selesai dalam beberapa tahun ke depannya.

Sementara itu Aliansi Masyarakat Pariwisata Bali mendorong Pemerintah Provinsi Bali untuk segera melakukan perbaikan infrastruktur untuk menunjang perkembangan pariwisata Bali. Mengingat Bali sangat memerlukan perbaikan infrastruktur agar pembangunan pariwisata di Bali bisa merata dan tidak timpang antara Bali Selatan dan Bali Utara. Ketua Aliansi Masyarakat Pariwisata Bali I Gusti Kade Sutawa menyampaikan jika infrastruktur terutama infrastruktur jalan menuju obyek wisata tidak diperbaiki maka pemerataan pariwisata sulit diwujudkan.

Belum lagi jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bali dan jumlah penduduk Bali terus mengalami peningkatan. “Karena kalau tidak dengan pertumbuhan pariwisata yang mencapai 10-15 persen, pertumbuhan penduduK yang hampir 4,5 persen di Bali ini, betul-betul Bali akan menjadi krodit dan macet di mana-mana kalau tidak diantisipasi. Demikian juga pemerataan pariwisata ini penting supaya tidak terjadi kesenjangan,” kata Sutawa. Ia juga mempertanyakan recana pembangunan jalan melingkar yang menghubungkan Bali Selatan-Barat dan Utara yang hingga kini belum terealisasi. Begitu juga pembangunan Bandar udara Bali Utara yang hingga kini masih menjadi wacana. (BD)

Tingkatkan Layanan, Status Puskesmas akan Diubah Jadi Badan Layanan Umum Daerah

Singaraja, Suara Buleleng - Jam kerja sejumlah puskesmas di Buleleng sering dikeluhkan warga. Pasalnya, hanya sedikit puskesmas buka selama 24 jam dan lebih banyak tutup pukul 14.00 wita. Puskesmas yang melayani rawat inap dan unit gawat darurat yang buka 24 jam sehari jumlahnya hanya empat puskesmas yakni Puskesmas Gerokgak I, Puskesmas Banjar I, Puskesmas Tejakula I, serta Puskesmas Busungbiu I.

Sementara banyak puskesmas lain yang pelayanan tenaga medisnya hanya buka hingga pukul 14.00 wita dan tutup pada hari Minggu. Untuk itu, warga meminta agar semua puskesmas memiliki unit gawat darurat dengan tenaga medis yang melakukan pelayanan 24 jam.

Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana, Jumat (1/11) kemarin, mengakui banyak puskesmas yang masih dikeluhkan oleh warga. Keluhan warga lebih banyak terkait pelayanan di puskesmas, terutama jam kerja yang sempit. "Selama ini, keluhan yang saya terima itu menyangkut waktu pelayanan dan tenaga medis," katanya.

Untuk meningkatkan pelayanan puskesmas, Bupati Suradnyana berencana akan mengubah status puskesmas menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Dengan status yang disandangnya, tenaga medis bisa direkrut sesuai kompetensinya. Selain itu, tenaga medis yang sudah ada juga akan ditingkatkan kompetensinya. Bahkan tahun depan, akan ada satu puskesmas yang sudah diubah statusnya menjadi BLUD. "Tahun depan, ada satu puskesmas yang kami jadikan pilot project," katanya.

Menurut Agus, jika status puskesmas diubah menjadi BLUD, maka puskesmas bisa lebih inovatif dan fleksibel dalam melakukan pelayanan. Dengan begitu, keinginan warga untuk berobat ke puskesmas akan semakin besar sehingga jumlah pasien ke RSUD bisa berkurang.

"Jika pelayanan puskesmas sudah bagus, maka rumah sakit juga tidak terlalu padat menerima pasien-pasien yang bersifat gawat darurat, karena sudah ada puskesmas yang menampung hal bersifat kedaruratan," tandasnya. (BP)

Tingkatkan Layanan, Status Puskesmas akan Diubah Jadi Badan Layanan Umum Daerah

Posted by Unknown No comments

Singaraja, Suara Buleleng - Jam kerja sejumlah puskesmas di Buleleng sering dikeluhkan warga. Pasalnya, hanya sedikit puskesmas buka selama 24 jam dan lebih banyak tutup pukul 14.00 wita. Puskesmas yang melayani rawat inap dan unit gawat darurat yang buka 24 jam sehari jumlahnya hanya empat puskesmas yakni Puskesmas Gerokgak I, Puskesmas Banjar I, Puskesmas Tejakula I, serta Puskesmas Busungbiu I.

Sementara banyak puskesmas lain yang pelayanan tenaga medisnya hanya buka hingga pukul 14.00 wita dan tutup pada hari Minggu. Untuk itu, warga meminta agar semua puskesmas memiliki unit gawat darurat dengan tenaga medis yang melakukan pelayanan 24 jam.

Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana, Jumat (1/11) kemarin, mengakui banyak puskesmas yang masih dikeluhkan oleh warga. Keluhan warga lebih banyak terkait pelayanan di puskesmas, terutama jam kerja yang sempit. "Selama ini, keluhan yang saya terima itu menyangkut waktu pelayanan dan tenaga medis," katanya.

Untuk meningkatkan pelayanan puskesmas, Bupati Suradnyana berencana akan mengubah status puskesmas menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Dengan status yang disandangnya, tenaga medis bisa direkrut sesuai kompetensinya. Selain itu, tenaga medis yang sudah ada juga akan ditingkatkan kompetensinya. Bahkan tahun depan, akan ada satu puskesmas yang sudah diubah statusnya menjadi BLUD. "Tahun depan, ada satu puskesmas yang kami jadikan pilot project," katanya.

Menurut Agus, jika status puskesmas diubah menjadi BLUD, maka puskesmas bisa lebih inovatif dan fleksibel dalam melakukan pelayanan. Dengan begitu, keinginan warga untuk berobat ke puskesmas akan semakin besar sehingga jumlah pasien ke RSUD bisa berkurang.

"Jika pelayanan puskesmas sudah bagus, maka rumah sakit juga tidak terlalu padat menerima pasien-pasien yang bersifat gawat darurat, karena sudah ada puskesmas yang menampung hal bersifat kedaruratan," tandasnya. (BP)

Layanan Semeton

Layanan Semeton

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

© 2013 SUARA BULELENG. WP Theme-junkie converted by BloggerTheme9
Blogger templates. Proudly Powered by Blogger.
back to top